Scroll untuk baca artikel
Example floating
Nasional

Cagar Alam Ijen Terbakar

42
×

Cagar Alam Ijen Terbakar

Sebarkan artikel ini

Cagar Alam Ijen Terbakar

Cagar Alam Ijen Terbakar

Megasora.com – Jakarta, Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) kembali terjadi di kawasan Gunung Ijen, Jawa Timur, tepatnya di wilayah Cagar Alam Merapi Ungup-Ungup. Api mulai terlihat sejak beberapa hari terakhir dan hingga kini masih menjadi perhatian petugas karena titik kobaran dilaporkan semakin meluas. Bahkan, kepulan asap dan cahaya api dapat terlihat dari sejumlah kawasan permukiman yang berada di sekitar lereng Gunung Ijen.

Kepala Bidang Konservasi Sumber Daya Alam (KSDA) Wilayah III Jember, Purwantono, membenarkan adanya kebakaran yang terjadi di kawasan konservasi tersebut. Ia mengatakan petugas menerima informasi mengenai kemunculan titik api pada Kamis (3/9/2026) sekitar tengah malam. Kondisi malam yang gelap membuat cahaya kobaran api terlihat cukup jelas dari sejumlah titik di sekitar kawasan puncak.

Menurut Purwantono, lokasi awal kebakaran berada di bagian dalam kawasan Cagar Alam Merapi Ungup-Ungup. Medan yang berada di kawasan pegunungan membuat petugas membutuhkan waktu untuk menjangkau titik kebakaran. Tim di lapangan kemudian melakukan persiapan dan mobilisasi untuk menuju lokasi sekaligus mengambil langkah pemadaman.

“Informasi awal titik api berada di kawasan Cagar Alam Merapi Ungup-Ungup, bagian dalam sebelah atas. Saat ini teman-teman di lapangan masih melakukan mobilisasi tim untuk mengakses lokasi dan melakukan pemadaman,” kata Purwantono.

Hingga saat ini, petugas belum dapat memastikan total luas kawasan yang terdampak kebakaran. BKSDA masih mengumpulkan informasi dari lapangan untuk mengetahui perkembangan api sekaligus memetakan area yang terbakar. Jumlah personel yang terlibat dalam penanganan juga masih dalam proses pendataan.

Petugas menghadapi sejumlah kendala dalam proses pemantauan dan penanganan kebakaran. Salah satunya berkaitan dengan kondisi jaringan komunikasi yang terbatas di kawasan Merapi Ungup-Ungup. Situasi tersebut membuat proses penyampaian informasi dari lokasi kejadian kepada petugas lain tidak selalu berlangsung cepat.

Selain faktor medan dan komunikasi, kondisi cuaca pada musim kemarau turut meningkatkan risiko kebakaran di kawasan konservasi tersebut. Vegetasi yang mengering akibat minimnya curah hujan menjadi material yang mudah terbakar. Ketika api muncul dan mendapat dorongan angin, kobaran dapat bergerak dengan cepat dari satu area menuju area lainnya.

Purwantono menjelaskan bahwa musim kemarau membuat kawasan hutan menghadapi tingkat kerawanan kebakaran yang lebih tinggi. Tumpukan dedaunan serta tanaman kering dapat menjadi bahan bakar alami ketika tersentuh sumber api. Kecepatan angin di wilayah dataran tinggi juga berpotensi mempercepat penjalaran api.

“Musim kemarau ini sangat rawan. Vegetasi kering jika terkena pemicu api dan tertiup angin bisa langsung menyebar dengan cepat,” ujarnya.

Petugas kini terus berupaya mencapai titik api dan melakukan penanganan sesuai kondisi medan di kawasan cagar alam. Pemantauan juga diperlukan untuk mengantisipasi kemungkinan munculnya titik api baru di sekitar lokasi kebakaran. Langkah tersebut penting untuk mencegah api bergerak lebih jauh dan mengancam kawasan hutan konservasi.

Kawasan Cagar Alam Merapi Ungup-Ungup memiliki kondisi vegetasi dan topografi yang membutuhkan penanganan khusus ketika terjadi kebakaran. Akses menuju beberapa bagian kawasan tidak mudah, sehingga petugas perlu menyesuaikan strategi berdasarkan lokasi titik api. Proses pemadaman juga harus memperhatikan aspek keselamatan personel yang bekerja di medan pegunungan.

BKSDA masih menunggu hasil pemantauan dan pendataan dari tim yang berada di lapangan. Informasi mengenai luas wilayah terdampak dan perkembangan penanganan akan menjadi dasar untuk menentukan langkah berikutnya. Petugas juga terus berkoordinasi agar upaya pengendalian kebakaran dapat berjalan secara efektif.

Masyarakat yang tinggal di sekitar lereng Gunung Ijen turut diminta memperhatikan perkembangan situasi dan tidak melakukan aktivitas yang berpotensi memicu kebakaran. Kondisi vegetasi yang kering selama musim kemarau membuat sumber api kecil sekalipun dapat berkembang menjadi kebakaran yang lebih besar.

Penanganan karhutla di kawasan konservasi membutuhkan respons cepat karena api dapat mengancam ekosistem dan habitat berbagai jenis flora maupun fauna. Karena itu, mobilisasi petugas menjadi bagian penting dalam mengendalikan kobaran sejak titik api pertama terdeteksi. Pemantauan secara berkelanjutan juga perlu dilakukan hingga kondisi kawasan benar-benar aman.

Hingga Jumat (4/9/2026), petugas masih melakukan penanganan di kawasan Cagar Alam Merapi Ungup-Ungup. BKSDA belum menyampaikan angka final mengenai luas area yang terbakar maupun jumlah personel yang terlibat. Petugas masih mengutamakan akses menuju titik api dan pengendalian kebakaran sambil terus memperbarui informasi mengenai kondisi di lapangan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *