Scroll untuk baca artikel
Example floating
Ekonomi

BI Buka Suara soal Rupiah Dekati Rp18.000

156
×

BI Buka Suara soal Rupiah Dekati Rp18.000

Sebarkan artikel ini

BI Buka Suara soal Rupiah Dekati Rp18.000

BI Buka Suara soal Rupiah Dekati Rp18.000

Megasuar.com – Jakarta, Bank Indonesia (BI) memberikan tanggapan terkait pergerakan nilai tukar rupiah yang kembali berada di kisaran Rp18.000 per dolar Amerika Serikat. Pada penutupan perdagangan Selasa (7/7), rupiah tercatat di level Rp17.980 per dolar AS setelah menguat 15 poin atau sekitar 0,08 persen dibandingkan penutupan perdagangan sebelumnya.

Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi Bank Indonesia, Ramdan Denny Prakoso, menjelaskan bahwa pelemahan rupiah masih lebih terkendali apabila dibandingkan dengan sejumlah mata uang negara berkembang lainnya.

“Rupiah perkembangannya relatively termasuk baik dibandingkan negara emerging market yang lain,” ujar Denny saat ditemui di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Selasa (7/7).

Berdasarkan data Bloomberg untuk periode 17 Juni hingga 6 Juli 2026, Denny memaparkan bahwa rubel Rusia mengalami pelemahan sekitar 5,5 persen, peso Chile turun sekitar 4 persen, sedangkan baht Thailand melemah 2,3 persen. Pada periode yang sama, rupiah tercatat terkoreksi sekitar 1,4 persen terhadap dolar AS.

Selain itu, won Korea Selatan melemah sekitar 1 persen, peso Filipina turun sekitar 1 persen, rupee India terkoreksi 0,7 persen, sementara yuan China mengalami pelemahan sekitar 0,5 persen.

Bank Indonesia, kata Denny, akan terus mengoptimalkan berbagai langkah untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah agar tetap terkendali.

“Bank Indonesia tidak akan tinggal diam. Bank Indonesia seperti biasa akan all out untuk bagaimana menjaga rupiah itu tetap stabil dengan kecenderungan menguat,” tegasnya.

Menurut Denny, BI terus melakukan pemantauan dan intervensi pasar selama 24 jam, baik di pasar domestik maupun internasional. Upaya tersebut dilakukan melalui transaksi di pasar spot, instrumen Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF), serta Non-Deliverable Forward (NDF).

Ia menjelaskan, tekanan terhadap rupiah yang kembali mendekati level Rp18.000 per dolar AS terutama dipengaruhi oleh perkembangan global, khususnya setelah pelaksanaan rapat Federal Open Market Committee (FOMC) pada Juni 2026.

Meski Federal Reserve mempertahankan suku bunga acuan di kisaran 3,5 persen hingga 3,75 persen, pelaku pasar lebih menyoroti pernyataan sejumlah pejabat The Fed yang menunjukkan sikap hawkish. Sinyal tersebut memunculkan ekspektasi bahwa suku bunga Amerika Serikat masih berpotensi mengalami kenaikan.

“Sinyal hawkish itu mengindikasikan bagaimana suku bunga Fed Fund Rate di masa-masa yang akan datang, terutama tahun ini, yang memang probability-nya adalah tidak lagi turun tetapi akan naik,” jelas Denny.

Ia menambahkan bahwa sinyal tersebut turut mendorong penguatan indeks dolar Amerika Serikat (DXY). Indeks DXY yang berada di kisaran 95 pada Januari 2026 meningkat menjadi sekitar 101 pada akhir Juni, sekaligus menjadi posisi tertinggi dalam satu tahun terakhir.

“Kombinasi signal hawkish pejabat The Fed dan juga naiknya DXY pada level tertinggi dalam satu tahun terakhir inilah yang membuat nilai tukar sejumlah negara itu melemah terhadap USD,” kata Denny.

Saat dimintai tanggapan mengenai pernyataan Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo yang sebelumnya memperkirakan rupiah akan menguat pada Juli hingga Agustus, Denny menegaskan bahwa kondisi pasar keuangan selalu berubah mengikuti perkembangan terbaru.

“Perkembangannya tidak statis. Perkembangannya lebih dinamis. Oleh karena itu tadi saya sampaikan sinyal hawkish dari The Fed itu muncul di tanggal 17 Juni 2026,” tutupnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *