Megasora.com – Jakarta, PT Bank Central Asia Tbk (BCA) kini memiliki satu Pemegang Saham Pengendali Terakhir (PSPT). Posisi tersebut resmi dipegang oleh Robert Budi Hartono setelah meninggalnya Bambang Hartono, yang sebelumnya bersama-sama mengendalikan perusahaan induk BCA.
Perubahan struktur pengendalian tersebut telah memperoleh pencatatan dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK) melalui Surat Nomor SR 21/PB.333/2026 tertanggal 29 Juli 2026. Perseroan menerima pemberitahuan resmi dari regulator pada 30 Juli 2026.
Corporate Secretary BCA, Rudy Budiardjo, menjelaskan bahwa perubahan tersebut terjadi di tingkat PT Dwimuria Investama Andalan (DIA) selaku perusahaan pengendali BCA. Sebelum Bambang Hartono wafat, PT DIA berada di bawah kendali bersama Bambang Hartono dan Robert Budi Hartono.
“Seiring perubahan pada tingkat perusahaan induk, Robert Budi Hartono resmi menjadi Pemegang Saham Pengendali Terakhir (PSPT) BCA secara tunggal,” ujar Rudy dalam keterbukaan informasi yang disampaikan kepada Bursa Efek Indonesia (BEI), Jumat (31/7/2026).
Manajemen BCA menegaskan bahwa perubahan tersebut tidak mengubah komposisi kepemilikan saham Robert Budi Hartono di PT DIA. Hingga saat ini, Robert tetap memiliki 51 persen saham dari modal ditempatkan dan disetor penuh. Dengan demikian, perubahan yang terjadi hanya menyangkut status pengendalian setelah wafatnya Bambang Hartono, bukan perubahan porsi kepemilikan saham.
Rudy juga memastikan pergantian pengendali terakhir tidak memengaruhi aktivitas bisnis maupun kondisi perusahaan. Menurutnya, operasional BCA tetap berjalan normal dan seluruh layanan kepada nasabah berlangsung seperti biasa.
“Informasi atau fakta material yang diungkapkan tidak memiliki dampak material terhadap kegiatan operasional, aspek hukum, kondisi dan kinerja keuangan, maupun kelangsungan usaha Perseroan,” kata Rudy.
BCA menambahkan bahwa perubahan tersebut bersifat administratif pada tingkat pemegang saham pengendali. Oleh karena itu, tidak ada perubahan terhadap strategi bisnis, tata kelola operasional, maupun pelayanan kepada nasabah.
Di sisi lain, pergerakan saham BCA pada perdagangan Jumat (31/7/2026) ditutup melemah 1,94 persen ke posisi Rp6.325 per saham. Meski demikian, dalam periode lima hari perdagangan terakhir, saham emiten perbankan tersebut masih mencatatkan kenaikan sebesar 1,61 persen.
Data perdagangan juga menunjukkan investor asing membukukan aksi jual bersih (net sell) senilai Rp100,4 miliar pada saham BCA hingga penutupan perdagangan akhir pekan.













