Megasora.com – Jakarta, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diperkirakan memiliki peluang untuk kembali menguat pada perdagangan pekan depan. Pelaku pasar akan mencermati sejumlah sentimen domestik dan global yang berpotensi memengaruhi arah pergerakan indeks.
Salah satu perhatian utama investor tertuju pada keputusan Bank Indonesia (BI) mengenai suku bunga acuan atau BI Rate. Kebijakan tersebut dinilai dapat memberikan gambaran mengenai arah kebijakan moneter serta prospek perekonomian Indonesia dalam beberapa waktu mendatang.
Analis PT MNC Sekuritas Herditya Wicaksana memperkirakan IHSG akan bergerak dalam rentang level support 6.112 hingga resistance 6.454. Rentang tersebut menjadi salah satu acuan investor dalam melihat potensi pergerakan indeks pada perdagangan pekan berikutnya.
Menurut Herditya, terdapat sejumlah faktor yang akan menjadi penggerak IHSG. Investor tidak hanya menunggu keputusan bank sentral domestik, tetapi juga memperhatikan perkembangan kebijakan moneter Amerika Serikat serta kondisi ekonomi China.
“Pertama, investor akan menanti BI Rate atau suku bunga acuan yang diprediksi bertahan di level 5,75%,” ujar Herditya saat dihubungi Liputan6.com, Selasa (18/8/2026).
Selain keputusan BI, pasar juga akan mencermati risalah rapat Federal Open Market Committee (FOMC Minutes). Dokumen tersebut dapat memberikan petunjuk mengenai pandangan pejabat The Federal Reserve terhadap kondisi ekonomi Amerika Serikat dan kemungkinan arah kebijakan suku bunga selanjutnya.
Herditya juga melihat perkembangan ekonomi China sebagai salah satu sentimen yang berpotensi memengaruhi pasar saham Indonesia. Investor akan memperhatikan sejumlah data ekonomi China yang diperkirakan masih menunjukkan kondisi yang perlu dicermati pasar.
“Ketiga, rilis data makro China yang secara konsensus diperkirakan masih melanda,” kata Herditya.
Faktor lain yang tidak kalah penting adalah pergerakan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat. Penguatan atau pelemahan rupiah dapat memengaruhi persepsi investor terhadap aset domestik, terutama ketika pasar global masih menghadapi ketidakpastian.
“Keempat pergerakan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat, serta investor juga mencermati flow di IHSG sebagai efek dari MSCI,” tuturnya.
IHSG Melemah Tipis Pekan Lalu
Sementara itu, IHSG mencatatkan kinerja negatif pada perdagangan 10-14 Agustus 2026. Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia (BEI), indeks saham nasional turun 0,12% secara mingguan hingga berada di posisi 6.401,88.
Pergerakan tersebut berbanding terbalik dengan kinerja IHSG pada pekan sebelumnya. Pada periode 3-7 Agustus 2026, IHSG mampu mencatatkan kenaikan 2,78% dan ditutup pada level 6.409,65.
Meski indeks mengalami koreksi, kapitalisasi pasar Bursa Efek Indonesia justru mengalami pertumbuhan. Nilai kapitalisasi pasar meningkat 0,28% menjadi sekitar Rp11.243 triliun dari posisi sebelumnya sebesar Rp11.212 triliun.
Herditya menjelaskan, pelemahan IHSG selama sepekan turut diiringi tekanan jual di pasar saham. Berdasarkan data hingga 13 Agustus 2026, tercatat aliran dana keluar atau outflow di pasar reguler mencapai sekitar Rp1,14 triliun.
Salah satu faktor yang menjadi perhatian investor adalah hasil MSCI August Index Review. Dalam hasil tinjauan tersebut, posisi Indonesia masih berada dalam status pembekuan dan tetap masuk dalam kelompok pasar negara berkembang atau emerging markets.
Kondisi tersebut turut memengaruhi aliran dana di pasar saham domestik. Investor mencermati potensi perubahan arus modal asing seiring dengan kebijakan dan keputusan MSCI yang berkaitan dengan pasar saham Indonesia.
Pidato Presiden dan RAPBN 2027 Jadi Perhatian
Dari dalam negeri, perhatian pasar juga tertuju pada pidato Presiden Prabowo Subianto dalam Sidang Tahunan MPR. Investor mencermati sejumlah arah kebijakan pemerintah yang disampaikan dalam agenda tersebut, khususnya yang berkaitan dengan perekonomian nasional.
Selain pidato kenegaraan, pasar juga menunggu perkembangan Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (RAPBN) 2027 beserta Nota Keuangan. Dokumen tersebut menjadi salah satu indikator bagi pelaku pasar dalam membaca arah kebijakan fiskal pemerintah pada tahun mendatang.
“Pasar mencermati pidato kenegaraan dan RAPBN 2027 terhadap kebijakan dan pertumbuhan ekonomi 2027,” kata Herditya.
Dari pasar global, data inflasi Amerika Serikat turut memberikan sentimen positif bagi pasar. Rilis Consumer Price Index (CPI) dan Producer Price Index (PPI) AS yang berada di bawah perkiraan konsensus meningkatkan ekspektasi pasar terhadap peluang penurunan suku bunga The Fed.
Ekspektasi tersebut menjadi perhatian bagi investor di berbagai negara, termasuk Indonesia. Kebijakan suku bunga The Fed memiliki pengaruh terhadap arus modal global, nilai tukar, serta daya tarik aset-aset di pasar negara berkembang.
Di sisi lain, ketegangan geopolitik di kawasan Timur Tengah juga masih menjadi faktor yang diperhitungkan pelaku pasar. Perkembangan proses menuju kesepakatan perdamaian akan terus dipantau karena konflik geopolitik dapat memengaruhi sentimen risiko di pasar keuangan global.
Aktivitas Perdagangan Ikut Menurun
Dari sisi aktivitas transaksi, rata-rata nilai perdagangan harian di BEI selama periode 10-14 Agustus 2026 tercatat Rp15,21 triliun. Angka tersebut turun 1,07% dibandingkan rata-rata pada pekan sebelumnya yang mencapai Rp15,38 triliun.
Penurunan juga terjadi pada rata-rata volume transaksi harian. BEI mencatat volume perdagangan berada di sekitar 34,01 miliar saham, atau turun 14,86% dari rata-rata pekan sebelumnya yang mencapai 39,95 miliar saham.
Sementara itu, rata-rata frekuensi transaksi harian juga mengalami penurunan. Frekuensi perdagangan tercatat sekitar 2,09 juta transaksi, lebih rendah 9,67% dibandingkan pekan sebelumnya yang mencapai 2,32 juta transaksi.
Tekanan dari investor asing turut mewarnai perdagangan saham selama sepekan. Investor asing tercatat membukukan aksi jual bersih saham sekitar Rp1,58 triliun.
Kondisi tersebut berbeda dengan perdagangan pada pekan sebelumnya ketika investor asing masih mencatatkan pembelian bersih saham. Pada periode tersebut, investor asing membukukan aksi beli saham sekitar Rp695,17 miliar.
Dengan berbagai sentimen tersebut, pergerakan IHSG pada pekan mendatang masih akan sangat bergantung pada respons pasar terhadap keputusan BI, perkembangan kebijakan The Fed, data ekonomi China, kondisi rupiah, serta arus dana asing. Investor juga akan terus mencermati perkembangan terkait MSCI yang dapat memengaruhi sentimen terhadap pasar saham Indonesia.











