Scroll untuk baca artikel
Example floating
Nasional

Kisah Saleh, Pahlawan di Tengah Laut

35
×

Kisah Saleh, Pahlawan di Tengah Laut

Sebarkan artikel ini

Kisah Saleh, Pahlawan di Tengah Laut

Muhammad Saleh (44), warga asal Punagaya, Jeneponto, Sulawesi Selatan, membagikan kisahnya usai selamat dari kebakaran KMP Mutiara Sentosa II di perairan utara Sumenep, Madura, Minggu (2/8).CNN Indonesia/Farid

Megasora.com – Jakarta, Muhammad Saleh (44), warga Punagaya, Kabupaten Jeneponto, Sulawesi Selatan, membagikan pengalamannya setelah berhasil selamat dari kebakaran KMP Mutiara Sentosa II di perairan utara Sumenep, Madura, Minggu (2/8). Di tengah upaya menyelamatkan diri, ia juga membantu dua penumpang lain yang tidak mampu berenang agar dapat bertahan di laut hingga tim penyelamat datang.

Saleh menjelaskan dirinya bertugas mengawal pengiriman 17 ekor kuda dari Surabaya menuju Makassar. Saat insiden terjadi, ia sedang memotong rumput untuk pakan kuda di dalam kapal. Aktivitas itu mendadak terhenti setelah sopir yang berada bersamanya berteriak memberi tahu bahwa kebakaran telah terjadi.

“Jadi saya potong-potong rumput akhirnya datang asap. Sopir saya bilang ‘kebakaran!’” kata Saleh saat ditemui di Posko Terpadu Terminal Gapura Surya Nusantara (GSN) Pelabuhan Tanjung Perak, Surabaya, Selasa (4/8).

Kepulan asap hitam yang memenuhi ruangan membuat Saleh kesulitan menemukan jalan keluar. Ia mengaku nyaris tidak dapat melihat arah sehingga memanfaatkan celah jendela untuk menghirup udara segar sebelum akhirnya berhasil mencapai geladak kapal.

“Mau lari naik, tidak bisa naik karena banyak asap, asap hitam. Saya enggak kelihatan. Akhirnya saya lewat dari jendela untuk pernafasan. Supaya angin kan. ada angin di situ jadi umpama padat itu asapnya baru saya lari naik,” ujarnya.

Setelah berhasil tiba di atas geladak, Saleh tidak langsung memperoleh pelampung. Ia sempat mengambil sebuah jeriken kosong berwarna biru yang hendak digunakan sebagai alat bantu mengapung. Namun, tidak lama kemudian seseorang memberikan pelampung sehingga ia memiliki perlengkapan keselamatan.

“Akhirnya saya lari tidak dapat pelampung. Ada jeriken di situ saya bawa. Warna biru. Saya bawa jeriken, akhirnya naik ke atas ada yang kasih saya pelampung di situ,” tuturnya.

Di tengah kepanikan, Saleh melihat banyak penumpang masih ragu melompat ke laut. Menurutnya, posisi kapal yang cukup tinggi dari permukaan air dan kapal yang masih bergerak membuat banyak orang mengurungkan niat untuk segera menyelamatkan diri.

“Jadi kita mau loncat kita ragu-ragu juga. Karena masih ketinggian,” katanya.

Saleh kemudian berada di bagian depan kapal, tepat di sekitar area jangkar. Saat itu kobaran api mulai membakar tali jangkar dan selang yang berada di lokasi tersebut. Kondisi tersebut membuat suhu di sekitar tempatnya berdiri semakin panas dan mempersempit ruang untuk bertahan.

“Itu ya di depan sekali itu yang ada jangkar itu. tali jangkarnya itu terbakar yang sebelah kanan, belum loncat. Terbakar lagi selangnya itu belum loncat juga,” ungkapnya.

Situasi yang semakin genting membuat para penumpang panik. Dalam kondisi berdesakan, Saleh mengaku terdorong oleh penumpang lain hingga akhirnya terjatuh ke laut.

“Akhirnya saya didorong sama orang terus saya jatuh,” ucapnya.

Saat berada di laut, Saleh bertemu dengan dua penumpang yang sebelumnya sempat dikenalnya di atas kapal. Keduanya merupakan pedagang kambing yang ternyata tidak mampu berenang dan meminta bantuan kepadanya.

“Biar saya berenang sekitar 5 apa 10 meter, saya ketemu dengan ini penjual kambing,” katanya.

Mendengar permintaan tolong tersebut, Saleh langsung berusaha membantu. Ia menolong ayah dari pedagang kambing itu agar tetap mengapung meski kondisi ombak cukup besar.

“Dia bilang sama saya, ‘pak, tolong saya pak, bapak saya.’ Karena saya sendiri. Jadi aku ambil Bapaknya, dia pegang ini,” ujarnya sambil menunjuk pundaknya.

Namun, korban yang berpegangan di pundaknya membuat gerak Saleh menjadi lebih berat. Agar tidak ikut tenggelam, ia meminta korban memegang bagian bajunya. Bahkan, ia melepaskan celana yang sebelumnya diikat di leher untuk dijadikan pegangan tambahan.

“Baru aku bilang, ‘pak, jangan dipegang itu nanti saya tenggelam, lebih tenggelam lagi. Kalau bapak mau pegang baju saya,’” katanya.

“Saya rasa waktu saya berenang itu aku bilang, ‘pak, tunggu dulu pak ya. Kita masih punya pelampung nanti saya buka dulu ini celana yang di leher saya ini yang di saya sudah ikat’. Jadi saya gigit itu celana, baru saya bilang, ‘pegang ini pak. Nanti saya berenang,’” lanjutnya.

Saleh mengaku perjuangan menuju kapal penyelamat tidak mudah. Selama berenang, ia harus menggigit celana yang digunakan sebagai alat bantu bagi korban sehingga berkali-kali menelan air laut ketika ombak datang menerjang.

“Iya. Kalau naik kita ombak itu kan pasti minum air, sedangkan saya gigit celana selalu masuk air. Karena saya menolong orang,” ujarnya.

Setelah berhasil dievakuasi ke kapal penyelamat, pedagang kambing yang dibantunya mengalami mual dan muntah akibat kelelahan dan banyak menelan air laut. Sementara itu, Saleh mengaku bersyukur karena dirinya beserta korban yang ditolong berhasil selamat dari peristiwa tersebut.

Selain menyelamatkan diri, Saleh juga harus menerima kerugian materiil yang cukup besar. Sebanyak 17 ekor kuda yang dikawalnya gagal sampai ke tujuan karena ikut terdampak kebakaran kapal.

“Muatannya itu 17 ekor kuda. Kerugian Rp640 juta di notanya,” tutup Saleh.

Saleh menjadi salah satu dari 238 penumpang KMP Mutiara Sentosa II yang berhasil dievakuasi. Dalam peristiwa kebakaran tersebut, lima penumpang dilaporkan meninggal dunia, sementara sejumlah korban lainnya mengalami luka-luka.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *