Scroll untuk baca artikel
Example floating
Kesehatan

Waspada! Dehidrasi Ancam Jantung hingga Ginjal

66
×

Waspada! Dehidrasi Ancam Jantung hingga Ginjal

Sebarkan artikel ini

Waspada! Dehidrasi Ancam Jantung hingga Ginjal

Waspada! Dehidrasi Ancam Jantung hingga Ginjal
Portrait asian young girl drink water on green bokeh

Megasora.com – Jakarta, Dokter spesialis gizi klinik dr. Putri Sakti, M.Gizi, Sp.GK, AIFO-K mengingatkan masyarakat agar tidak menganggap sepele kondisi dehidrasi. Kekurangan cairan dapat berdampak pada berbagai fungsi tubuh, termasuk meningkatkan beban kerja jantung dan menurunkan kinerja ginjal.

Putri menjelaskan, sekitar 60 persen tubuh manusia tersusun atas air. Ketika tubuh kehilangan cairan dalam jumlah tertentu, volume darah dapat berkurang dan menjadi lebih pekat sehingga jantung harus bekerja lebih keras untuk mengalirkan darah ke seluruh tubuh.

“Darah mengental sehingga beban kerja jantung meningkat untuk memompa darah ke seluruh organ. Hal ini bisa memicu penurunan tekanan darah dan gejala pusing,” kata Putri kepada ANTARA di Jakarta, Rabu.

Selain berdampak terhadap jantung, dehidrasi juga dapat mengganggu fungsi ginjal. Kondisi tersebut dapat membuat ginjal mengalami kesulitan dalam menyaring zat sisa dan racun dari tubuh. Kekurangan cairan juga dapat meningkatkan risiko terjadinya infeksi saluran kemih serta batu ginjal.

Pada kondisi yang lebih berat, dehidrasi dapat berkembang menjadi heat exhaustion hingga heat stroke, terutama ketika seseorang berada di lingkungan dengan suhu tinggi atau melakukan aktivitas fisik berat.

“Risiko heat exhaustion dan heat stroke yang dapat menyebabkan kegagalan organ dan meningkatkan risiko gangguan keselamatan jiwa,” ujar dia.

Dokter yang merupakan lulusan Universitas Indonesia itu mengatakan rasa haus sebaiknya tidak menunggu hingga muncul sebagai satu-satunya tanda kebutuhan tubuh terhadap cairan. Menurutnya, rasa haus merupakan sinyal bahwa tubuh telah mulai mengalami kekurangan cairan.

Beberapa gejala dehidrasi juga kerap muncul tanpa disadari. Salah satu indikator yang dapat diperhatikan adalah perubahan warna urine menjadi lebih gelap dan pekat, disertai frekuensi buang air kecil yang berkurang.

“Warna urine lebih gelap dan pekat dan frekuensi buang air kecil menurun (kurang dari 4–5 kali sehari),” kata Putri.

Tanda lainnya antara lain sakit kepala ringan, sensasi kepala melayang, mudah lelah dan mengantuk, kesulitan berkonsentrasi atau mengalami brain fog, serta menjadi lebih mudah tersinggung. Kekurangan cairan juga dapat menyebabkan mulut, bibir, dan mata terasa kering akibat berkurangnya produksi air liur dan air mata.

Putri juga menjelaskan bahwa keinginan mendadak untuk mengonsumsi makanan atau minuman manis terkadang dapat muncul ketika tubuh mengalami kekurangan cairan. Menurutnya, kondisi tersebut berkaitan dengan kesulitan hati dalam memecah cadangan glikogen menjadi glukosa sehingga tubuh dapat memberikan sinyal yang menyerupai rasa lapar atau keinginan mengonsumsi gula.

“Tiba-tiba ingin mengonsumsi makanan manis dikarenakan organ hati kesulitan memecah cadangan glukogen menjadi glukosa, sehingga tubuh mengirim sinyal “palsu” berupa rasa lapar atau ingin gula,” tutur dia.

Untuk mencegah dehidrasi, Putri menyarankan masyarakat membiasakan diri minum sebelum rasa haus muncul. Asupan cairan juga perlu disesuaikan dengan kondisi dan aktivitas masing-masing.

Ia merekomendasikan konsumsi cairan sekitar 2 hingga 2,5 liter per hari sebagai target minimal, dengan penambahan asupan apabila seseorang melakukan aktivitas fisik berat, terutama di bawah paparan sinar matahari dan cuaca panas.

Selain melalui minuman, kebutuhan cairan juga dapat dibantu dengan mengonsumsi makanan yang memiliki kandungan air tinggi. Beberapa pilihan yang dapat dikonsumsi antara lain semangka, melon, jeruk, timun, selada, serta sup dengan kuah bening yang sekaligus dapat membantu memenuhi kebutuhan mineral tubuh.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *