Scroll untuk baca artikel
Example floating
Kesehatan

Polusi Udara Ancam Paru dan Otak Anak

33
×

Polusi Udara Ancam Paru dan Otak Anak

Sebarkan artikel ini

Polusi Udara Ancam Paru dan Otak Anak

Polusi Udara Ancam Paru dan Otak Anak

Megasora.com – Jakarta, Guru Besar Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia (FKM UI), Prof. Dr. R. Budi Haryanto, S.K.M., M.Kes., M.Sc., mengingatkan bahwa paparan polusi udara dapat menimbulkan dampak serius terhadap kesehatan anak. Menurutnya, pencemaran udara tidak hanya meningkatkan risiko gangguan pernapasan, tetapi juga berpotensi menghambat perkembangan otak serta menurunkan fungsi paru-paru apabila terjadi dalam jangka panjang.

Dalam kegiatan yang diselenggarakan International Council on Clean Transportation (ICCT) di Jakarta, Selasa, Prof. Budi menjelaskan bahwa tingginya paparan berbagai jenis polutan di udara, yang berasal dari beragam sumber pencemar termasuk penggunaan bahan bakar yang belum ramah lingkungan, dapat memicu munculnya berbagai penyakit kronis.

“Maka ya risikonya semakin banyak, ada penyakit-penyakit kronis dari gangguan seperti paru, penyakit jantung bahkan stroke, anak-anak, jadi bukan milik orang dewasa saja sekarang, karena eksposurnya tinggi ini jadi masalah untuk anak-anak,” ujar Prof. Budi.

Ia menuturkan bahwa anak-anak merupakan kelompok yang paling rentan terhadap dampak polusi udara karena tubuh mereka masih berada pada masa pertumbuhan. Sistem kekebalan tubuh yang belum berkembang secara optimal membuat anak lebih mudah mengalami gangguan kesehatan akibat paparan zat pencemar di lingkungan.

Selain itu, aktivitas fisik anak yang relatif tinggi juga menyebabkan kebutuhan udara yang dihirup menjadi lebih besar dibandingkan saat beristirahat. Kondisi tersebut membuat volume udara yang masuk ke paru-paru meningkat sehingga peluang masuknya polutan ke dalam tubuh ikut bertambah.

Prof. Budi menjelaskan bahwa dalam kondisi normal seseorang bernapas sekitar 20 kali setiap menit. Namun ketika melakukan aktivitas seperti berlari, bersepeda, atau bermain, frekuensi pernapasan dapat meningkat hingga dua kali lipat sehingga jumlah udara yang masuk ke saluran pernapasan menjadi jauh lebih banyak.

“Bayangkan kalau sekali bernapas normal saja itu sekitar 500 ml udara yang masuk. Kalau itu frekuensinya semakin cepat ya semakin banyak dua kali lipat, tiga kali lipat. Bayangkan yang dimasukkan dalam paru-paru itu apa saja semakin banyak makin cepat,” katanya.

Ia menambahkan bahwa dampak polusi udara terhadap kesehatan paru-paru dapat terjadi pada semua kelompok usia, mulai dari anak-anak hingga lanjut usia. Tingkat keparahan gangguan tersebut bergantung pada jenis polutan yang terhirup serta jumlah paparan yang diterima tubuh.

Menurut Prof. Budi, partikel halus berukuran PM2.5 termasuk salah satu polutan yang paling berbahaya karena mampu menembus paru-paru, masuk ke aliran darah, kemudian menyebar ke berbagai organ tubuh. Paparan berkepanjangan terhadap partikel tersebut dapat meningkatkan risiko penyakit seperti asma, pneumonia, bronkitis, hingga penyakit paru obstruktif kronis (PPOK).

“Terus bronkitis, gangguan fungsi paru itu terutama kalau sudah long term, terus kemudian ini akan meningkat menjadi penyakit-penyakit paru yang PPOK ya,” ujarnya.

Lebih jauh, Prof. Budi mengungkapkan bahwa dampak polusi udara tidak hanya menyerang sistem pernapasan, tetapi juga dapat memengaruhi sistem saraf pusat. Zat pencemar kimia yang masuk ke dalam tubuh berpotensi mengganggu fungsi otak sehingga meningkatkan risiko berbagai gangguan neurologis.

Ia menyebutkan bahwa paparan polusi udara dalam jangka panjang dapat berkaitan dengan penurunan fungsi kognitif, demensia, penyakit Alzheimer, hingga stroke. Bahkan, dampak tersebut juga dapat memengaruhi kemampuan belajar anak karena berkaitan dengan penurunan fungsi otak.

“Kalau kita teliti itu kaitannya nanti dengan penurunan IQ, jadi kalau dilihat rapotnya itu tidak tinggi-tinggi nilainya tingkat prestasi belajar itu juga terganggu, itu semuanya otak. Pokoknya terganggu di susunan saraf pusat ya udah segala macam ada di sana yang terkait dengan otak,” tutur Prof. Budi.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *