Scroll untuk baca artikel
Example floating
Kesehatan

Tak Hanya Ibu, Ayah Pengaruhi Kesehatan Bayi

32
×

Tak Hanya Ibu, Ayah Pengaruhi Kesehatan Bayi

Sebarkan artikel ini

Tak Hanya Ibu, Ayah Pengaruhi Kesehatan Bayi

Tak Hanya Ibu, Ayah Pengaruhi Kesehatan Bayi

Megasora.com – Jakarta, Sebuah penelitian terbaru yang dilakukan di Brasil menemukan bahwa kebiasaan makan seorang ayah sebelum memiliki anak ternyata ikut menentukan kondisi kesehatan bayi yang akan dilahirkan. Temuan tersebut memperluas pemahaman bahwa kesehatan calon ayah memiliki peran penting dalam perkembangan janin, tidak kalah penting dibandingkan perhatian terhadap kesehatan ibu.

Salah satu penulis penelitian, Daniela Sartorelli, mengatakan bahwa selama ini pembahasan mengenai kehamilan lebih banyak menitikberatkan pada kondisi ibu. Padahal, hasil riset menunjukkan bahwa pola makan ayah juga memberikan kontribusi terhadap kesehatan bayi sejak dalam kandungan.

“Nutrisi dan kesehatan ibu sebelum, selama, dan setelah kehamilan selalu menjadi perhatian utama. Namun, masih sedikit yang membahas peran pola makan ayah. Penelitian kami menunjukkan bahwa pola makan ayah juga sangat berpengaruh terhadap kesehatan bayi,” kata Daniela Sartorelli, seperti dikutip dari New York Post, Sabtu (1/8).

Dalam penelitian tersebut, para ilmuwan menemukan hubungan antara konsumsi makanan cepat saji oleh ayah dengan berat badan bayi saat lahir. Ayah yang lebih sering mengonsumsi makanan cepat saji atau makanan ultra-proses diketahui cenderung memiliki bayi dengan berat badan lahir yang lebih tinggi dibandingkan rata-rata.

Tim peneliti menduga bahwa kandungan dalam makanan ultra-proses dapat memicu peradangan di dalam tubuh. Kondisi tersebut diperkirakan memengaruhi kualitas sperma sekaligus mengubah cara kerja gen yang berperan dalam pertumbuhan janin.

Salah seorang penulis penelitian lainnya, Mariana Rinaldi Carvalho, menjelaskan bahwa perubahan tersebut berkaitan dengan mekanisme epigenetika, yaitu proses yang mengatur aktivitas gen tanpa mengubah susunan DNA.

“Proses ini dikenal sebagai epigenetika. Aktivitas gen dapat ‘diaktifkan’ atau ‘dinonaktifkan’ bergantung pada kebiasaan makan sang ayah,” ujar Mariana Rinaldi Carvalho.

Penelitian itu secara khusus menyoroti gen IGF-II, yaitu gen yang diwariskan dari pihak ayah dan memiliki fungsi penting dalam mendukung pertumbuhan janin selama masa kehamilan. Perubahan pada aktivitas gen tersebut diduga berkaitan dengan peningkatan berat badan bayi ketika lahir.

Sementara itu, pengaruh pola makan ibu menunjukkan hasil yang berbeda. Peneliti menemukan bahwa ibu yang banyak mengonsumsi makanan ultra-proses pada awal kehamilan, terutama hingga usia kandungan 16 minggu, lebih berisiko melahirkan bayi dengan berat badan lebih rendah, panjang tubuh lebih pendek, serta lingkar kepala yang lebih kecil.

Menurut para peneliti, kondisi tersebut kemungkinan terjadi karena makanan ultra-proses umumnya memiliki kandungan gizi yang rendah meskipun tinggi kalori. Akibatnya, kebutuhan nutrisi penting untuk mendukung pertumbuhan janin tidak terpenuhi secara optimal.

Makanan ultra-proses merupakan produk pangan yang sebagian besar dibuat dari bahan hasil ekstraksi atau formulasi industri, bukan dari bahan pangan utuh. Produk ini biasanya mengandung berbagai bahan tambahan, seperti pengawet, pemanis buatan, pewarna, penguat rasa, pengemulsi, hingga zat aditif lain yang jarang digunakan dalam proses memasak sehari-hari.

Beberapa contoh makanan ultra-proses antara lain minuman bersoda, minuman bubuk berperisa, permen, adonan kue instan, daging olahan, sosis, nugget, serta mi instan.

Para peneliti menegaskan bahwa kesehatan dan gaya hidup ayah maupun ibu sama-sama berpengaruh terhadap perkembangan bayi. Bayi yang lahir dengan berat badan terlalu rendah ataupun terlalu tinggi memiliki risiko komplikasi kesehatan yang lebih besar, termasuk peningkatan risiko kematian pada masa awal kehidupan.

Selain itu, berat badan lahir yang tidak ideal juga dikaitkan dengan meningkatnya peluang munculnya berbagai penyakit tidak menular di kemudian hari, seperti penyakit jantung, diabetes tipe 2, hingga beberapa jenis kanker. Pada bayi dengan berat badan lahir yang terlalu tinggi, kondisi tersebut juga berpotensi memperlambat perkembangan kemampuan motorik, seperti merangkak dan berjalan.

Dampak konsumsi makanan ultra-proses tidak hanya memengaruhi kesehatan bayi saat lahir. Berbagai penelitian sebelumnya juga menunjukkan bahwa kebiasaan mengonsumsi jenis makanan tersebut berkaitan dengan meningkatnya risiko penyakit kardiovaskular, obesitas, sindrom metabolik, diabetes tipe 2, penyakit hati berlemak, depresi, demensia, beberapa jenis kanker, hingga kematian dini. Karena itu, para peneliti mendorong calon orang tua untuk mulai memperhatikan kualitas pola makan sejak sebelum merencanakan kehamilan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *