Megasora.com – Jakarta, Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung menyatakan Pemerintah Provinsi DKI Jakarta akan mengintensifkan pelaksanaan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) sebagai langkah mitigasi menghadapi fenomena El Nino yang diperkirakan berlangsung lebih lama dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. Program tersebut direncanakan terlaksana satu hingga dua kali dalam sepekan, dengan syarat kondisi atmosfer memungkinkan terbentuknya awan yang dapat dimanfaatkan untuk penyemaian.
Menurut Pramono, keputusan tersebut diambil setelah mempertimbangkan berbagai proyeksi dari instansi terkait mengenai potensi musim kemarau yang lebih panjang. Ia menegaskan pemerintah daerah telah memberikan persetujuan agar operasi modifikasi cuaca dapat dijalankan secara berkala selama peluang pembentukan awan masih tersedia.
“Puncak El Nino akan panjang, mungkin salah satu yang terpanjang dibandingkan dengan tahun 2023. Saya sudah memberikan persetujuan kalau bisa setiap minggu satu dua kalau memang awannya ada dibuat hujan buatan atau modifikasi cuaca,” kata Pramono di Balai Kota Jakarta, Rabu.
Pramono menjelaskan, informasi yang diperoleh dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), dan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menunjukkan peluang turunnya hujan diperkirakan baru muncul pada pertengahan hingga akhir September, atau memasuki pekan pertama maupun kedua Oktober.
Meski demikian, ia mengakui keberhasilan operasi modifikasi cuaca sangat bergantung pada ketersediaan awan yang layak untuk dilakukan penyemaian. Oleh sebab itu, pemerintah tetap menyiapkan seluruh kebutuhan teknis agar operasi dapat segera dilaksanakan ketika kondisi cuaca mendukung.
“Problemnya adalah ada kemungkinan untuk bisa awan ada itu kecil. Tetapi, saya sudah memerintahkan dan kita sudah mempersiapkan,” ujarnya.
Selain menyiapkan operasi modifikasi cuaca, Pemerintah Provinsi DKI Jakarta juga memperkuat berbagai langkah mitigasi untuk menghadapi dampak musim kemarau. Salah satu fokus utama ialah meningkatkan kesiapsiagaan terhadap potensi kebakaran yang berisiko meningkat akibat kondisi cuaca yang lebih panas dan kering.
Pramono meminta setiap rukun warga (RW) mulai menyiapkan alat pemadam api ringan (APAR) agar dapat merespons dengan cepat apabila terjadi kebakaran di lingkungan permukiman.
“Saya minta untuk setiap RW untuk persiapan APAR dari sekarang karena cuacanya kering,” kata Pramono.
Di samping upaya pencegahan kebakaran, Pemprov DKI Jakarta juga menaruh perhatian terhadap potensi meningkatnya kasus Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) selama musim kemarau. Pemerintah daerah juga memastikan ketersediaan pasokan air bersih tetap terjaga guna memenuhi kebutuhan masyarakat apabila kekeringan berlangsung dalam waktu yang lebih lama.
Sementara itu, BMKG menyampaikan bahwa fenomena El Nino saat ini telah memasuki kategori kuat dan masih berpotensi berkembang menjadi sangat kuat. Kondisi tersebut diperkirakan menyebabkan musim kemarau berlangsung lebih panjang dengan intensitas yang lebih kering di sejumlah wilayah Indonesia.
Wilayah yang berada di bagian selatan garis khatulistiwa, antara lain Nusa Tenggara Timur, Nusa Tenggara Barat, Bali, Pulau Jawa, serta sebagian wilayah Sumatera bagian selatan, diperkirakan akan merasakan dampak paling signifikan berupa berkurangnya curah hujan dibandingkan kondisi klimatologis normal.













