Scroll untuk baca artikel
Example floating
Nasional

BMKG: Gelombang 4 Meter Mengintai

34
×

BMKG: Gelombang 4 Meter Mengintai

Sebarkan artikel ini

BMKG: Gelombang 4 Meter Mengintai

Megasora.com – Jakarta, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengingatkan masyarakat mengenai potensi gelombang tinggi di sejumlah wilayah perairan Indonesia dalam beberapa hari ke depan. Kondisi tersebut diperkirakan berlangsung pada 18 hingga 21 Agustus 2026 dengan ketinggian gelombang berkisar antara 1,25 meter hingga 4 meter.

BMKG menjelaskan bahwa kondisi angin di wilayah Indonesia turut memengaruhi peningkatan tinggi gelombang di sejumlah perairan. Di wilayah utara ekuator, angin secara umum bergerak dari arah tenggara hingga barat daya dengan kecepatan sekitar 10-25 knot. Sementara itu, angin di kawasan selatan ekuator dominan bergerak dari timur hingga tenggara dengan kecepatan yang relatif sama.

Sejumlah perairan tercatat memiliki potensi kecepatan angin yang lebih tinggi dibandingkan wilayah lainnya. BMKG menyebut Laut Jawa, Selat Makassar, Laut Maluku, Samudra Pasifik bagian utara Maluku hingga Papua Barat Daya, serta Laut Arafuru sebagai kawasan yang perlu mendapat perhatian.

“Potensi kecepatan angin tertinggi terpantau di Laut Jawa, Selat Makassar, Laut Maluku, Samudra Pasifik utara Maluku hingga Papua Barat Daya, dan Laut Arafuru,” kata BMKG dalam keterangan tertulis pada Selasa (18/8/2026).

Kondisi angin tersebut dapat memicu gelombang dengan ketinggian 1,25-2,5 meter di sejumlah wilayah perairan Indonesia. Area yang berpotensi mengalami kondisi tersebut antara lain Laut Natuna Utara, Selat Karimata bagian utara dan selatan, serta Laut Jawa bagian barat, tengah, dan timur.

Potensi gelombang serupa juga muncul di Selat Makassar bagian selatan dan tengah, Laut Sumbawa, Laut Flores, Laut Sulawesi bagian tengah dan timur, serta sejumlah wilayah perairan di sekitar Papua. Selain itu, gelombang 1,25-2,5 meter berpeluang terjadi di Laut Banda, Laut Maluku, Laut Seram, serta beberapa bagian Laut Arafuru.

Sementara itu, BMKG memperkirakan gelombang dengan ketinggian yang lebih signifikan, yakni 2,5-4 meter, dapat terjadi di sejumlah wilayah perairan lainnya. Kondisi tersebut berpotensi muncul di Selat Malaka bagian utara serta kawasan Samudra Hindia di sebelah barat Aceh, Kepulauan Nias, Kepulauan Mentawai, Bengkulu, dan Lampung.

Ancaman gelombang tinggi juga perlu mendapat perhatian di perairan selatan Pulau Jawa hingga Nusa Tenggara. Wilayah yang masuk dalam potensi tersebut mencakup Samudra Hindia selatan Banten, Jawa Barat, Jawa Tengah, Daerah Istimewa Yogyakarta, Jawa Timur, Bali, Nusa Tenggara Barat, hingga Nusa Tenggara Timur.

BMKG menilai kondisi laut tersebut dapat meningkatkan risiko terhadap aktivitas pelayaran. Karena itu, masyarakat yang menggunakan transportasi laut perlu memperhatikan perkembangan cuaca dan informasi resmi BMKG sebelum melakukan perjalanan atau aktivitas di perairan.

Nelayan menjadi salah satu kelompok yang perlu meningkatkan kewaspadaan, terutama ketika kondisi angin dan gelombang telah melewati batas yang berisiko bagi perahu nelayan. BMKG juga mengingatkan operator kapal tongkang, kapal feri, serta kapal berukuran besar untuk memperhitungkan kondisi cuaca dan laut sebelum berlayar.

“Potensi gelombang tinggi di beberapa wilayah tersebut dapat berisiko terhadap keselamatan pelayaran. Untuk itu, BMKG mengimbau masyarakat agar selalu waspada, terutama bagi nelayan dan pengguna moda transportasi laut,” ujar BMKG.

BMKG turut memberikan gambaran mengenai batas kondisi yang perlu menjadi perhatian bagi berbagai jenis kapal. Untuk perahu nelayan, risiko meningkat ketika kecepatan angin mencapai lebih dari 15 knot dan tinggi gelombang berada di atas 1,25 meter.

Sementara itu, kapal tongkang menghadapi risiko ketika kecepatan angin melampaui 16 knot dengan tinggi gelombang lebih dari 1,5 meter. Adapun kapal feri perlu meningkatkan kewaspadaan saat angin mencapai lebih dari 21 knot dan tinggi gelombang berada di atas 2,5 meter.

Untuk kapal berukuran besar, seperti kapal kargo dan kapal pesiar, BMKG menyebut kondisi menjadi berisiko ketika kecepatan angin melebihi 27 knot serta tinggi gelombang mencapai lebih dari 4 meter. Informasi tersebut dapat menjadi pertimbangan bagi operator dalam menentukan keamanan pelayaran.

Selain pengguna transportasi laut, masyarakat yang tinggal di kawasan pesisir juga perlu memperhatikan perkembangan kondisi laut selama periode peringatan. Aktivitas di sekitar pantai sebaiknya menyesuaikan dengan kondisi cuaca dan gelombang, khususnya ketika BMKG mengeluarkan pembaruan peringatan dini.

Masyarakat juga dapat memantau informasi cuaca dan peringatan gelombang melalui kanal resmi BMKG. Pemantauan secara berkala penting dilakukan karena kondisi angin dan gelombang dapat berubah mengikuti dinamika atmosfer dan laut.

BMKG mengimbau seluruh pihak untuk tidak mengabaikan peringatan dini tersebut. Kewaspadaan, perencanaan perjalanan yang matang, serta kepatuhan terhadap informasi keselamatan pelayaran menjadi langkah penting untuk mengurangi risiko selama gelombang tinggi berlangsung.

Dengan potensi gelombang hingga 4 meter di sejumlah perairan, nelayan dan operator transportasi laut perlu menempatkan aspek keselamatan sebagai prioritas. Masyarakat pesisir juga diharapkan tetap siaga dan segera mengikuti arahan petugas apabila kondisi laut menunjukkan peningkatan risiko.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *