Scroll untuk baca artikel
Example floating
Nasional

Megawati Resmikan Monumen Kudatuli Hari Ini

85
×

Megawati Resmikan Monumen Kudatuli Hari Ini

Sebarkan artikel ini

Megawati Resmikan Monumen Kudatuli Besok Hari Ini

30 Tahun Kudatuli, Monumen Diresmikan Megawati

Megasora.com – Jakarta, Ketua Umum PDI Perjuangan (PDIP) Megawati Soekarnoputri dijadwalkan meresmikan Monumen Kerusuhan 27 Juli 1996 atau Kudatuli di Kantor DPP PDIP, Jalan Diponegoro, Menteng, Jakarta Pusat, pada Senin (27/7/2026). Peresmian tersebut bertepatan dengan tiga dekade sejak peristiwa penyerbuan kantor DPP PDI yang dikenang sebagai salah satu momentum penting dalam sejarah perjuangan demokrasi di Indonesia.

Sekretaris Jenderal DPP PDIP Hasto Kristiyanto mengatakan acara peresmian akan dihadiri berbagai elemen masyarakat, mulai dari tokoh-tokoh yang selama ini aktif memperjuangkan demokrasi hingga perwakilan masyarakat sipil.

“Besok pada jam satu, DPP PDI Perjuangan mengundang seluruh tokoh-tokoh pro demokrasi, seluruh masyarakat sipil untuk hadir di dalam peresmian Monumen Kudatuli oleh Ibu Prof. Dr. Megawati Soekarnoputri,” ujar Hasto di Kantor DPP PDIP, Jakarta, Minggu (26/7/2026).

Menurut Hasto, keberadaan monumen tersebut bukan sekadar penanda sejarah, tetapi juga menjadi simbol perjalanan panjang perjuangan politik yang dipimpin Megawati Soekarnoputri. Ia menilai nilai-nilai yang lahir dari peristiwa Kudatuli terus menjadi pengingat bagi seluruh kader PDIP agar tetap menjaga demokrasi dan mengutamakan kepentingan rakyat.

Hasto menjelaskan bahwa Megawati selalu menekankan pentingnya mendengar aspirasi masyarakat dari berbagai lapisan, termasuk kelompok yang selama ini kurang mendapat perhatian.

“Suara yang paling terpencil pun harus kita dengarkan agar keputusan politik betul-betul membebaskan bagi mereka yang masih terjajah oleh berbagai belenggu ekonomi dan juga penjajahan yang bekerja dengan cara lain,” kata Hasto.

Menjelang peresmian monumen, DPP PDIP terlebih dahulu menggelar rangkaian kegiatan refleksi memperingati 30 tahun tragedi Kudatuli di kantor partai yang berlokasi di Jalan Diponegoro Nomor 58, Jakarta Pusat. Agenda tersebut diawali dengan pertunjukan teatrikal yang mengangkat kembali suasana penyerbuan kantor DPP PDI pada 27 Juli 1996.

Pementasan yang dibawakan kelompok Teater Gates menggambarkan kembali konflik yang terjadi ketika massa dari kubu PDI pimpinan Soerjadi, yang disebut mendapat dukungan rezim Orde Baru, menyerang kantor DPP PDI yang saat itu dipertahankan oleh para pendukung Megawati Soekarnoputri.

Setelah pertunjukan berakhir, Hasto mengajak seluruh peserta memberikan penghormatan kepada para korban tragedi Kudatuli melalui hening cipta. Penghormatan itu ditujukan kepada mereka yang meninggal dunia, hilang, maupun mengalami luka-luka akibat peristiwa tersebut.

“Hening untuk sekurang-kurangnya untuk lima saudara kita yang telah gugur. Asmayadi Soleh, Suganda Siagian, Slamet, Uju bin Asep dan Sariwan, serta kita hening untuk 23 saudara kita yang hilang dan hingga saat ini tidak ada kepastian tentang nasibnya,” tutur Hasto.

Ia juga mengingatkan bahwa tragedi tersebut meninggalkan luka mendalam bagi para korban yang selamat maupun keluarga mereka. Karena itu, Hasto mengajak seluruh peserta mengenang 149 korban luka yang hingga kini masih membawa beban trauma.

“Hening untuk 149 yang terluka dan untuk semua yang memikul luka itu dalam diam selama 30 tahun,” ucapnya.

Dalam sambutannya, Hasto menilai Kudatuli merupakan salah satu babak paling kelam dalam perjalanan demokrasi Indonesia. Menurutnya, peristiwa tersebut menjadi gambaran bagaimana kekuasaan pada masa itu digunakan untuk menekan kebebasan politik dan membungkam suara rakyat.

“Sebab apa yang terjadi saat itu sangatlah dahsyat, kekuasaan otoriter Orde Baru mencoba membunuh demokrasi, mematikan kemanusiaan, dan mengubur keadilan,” tegas Hasto.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *