Megasora.com – Jakarta, Anggota Dewan Perwakilan Daerah (DPD) RI Alfiansyah Bustami alias Komeng menilai kemandirian pangan memiliki peran strategis bagi Indonesia. Menurutnya, kemampuan negara memenuhi kebutuhan pangan dari produksi dalam negeri dapat menjadi penyangga ketika terjadi gangguan pasokan dari negara lain. Situasi konflik antara Kamboja dan Thailand menjadi salah satu contoh yang menunjukkan pentingnya ketahanan pangan nasional. Kondisi geopolitik di negara pemasok dapat memengaruhi kelancaran perdagangan dan ketersediaan sejumlah komoditas. Karena itu, Komeng memandang peningkatan produksi pangan domestik sebagai langkah penting untuk menjaga kebutuhan masyarakat.
Komeng menyampaikan pandangan tersebut setelah mengikuti Sidang Tahunan MPR RI serta Sidang Bersama DPR RI-DPD RI Tahun 2026 di Jakarta, Jumat. Ia menanggapi paparan Presiden Prabowo Subianto mengenai perkembangan sektor pangan Indonesia selama satu tahun terakhir. Komeng menilai peningkatan cadangan pangan nasional memberikan keuntungan bagi Indonesia ketika kondisi negara pemasok mengalami gangguan. Ia mencontohkan ketergantungan terhadap pasokan dari Kamboja dan Thailand yang berpotensi menghadapi hambatan akibat konflik. “Pangan naik, biasanya kita impor (dari) Kamboja, Thailand. Untung kita punya stok pangan. Ini Kamboja sama Thailand perang, akhirnya jadi enggak impor lagi,” ujar Komeng.
Menurut Komeng, kondisi tersebut memperlihatkan bahwa Indonesia perlu terus memperkuat kemampuan produksi pangan di dalam negeri. Ketersediaan stok nasional dapat membantu pemerintah menjaga kebutuhan masyarakat ketika jalur perdagangan internasional menghadapi kendala. Ia juga melihat swasembada pangan bukan hanya berkaitan dengan peningkatan produksi, tetapi juga menyangkut kesiapan Indonesia menghadapi perubahan situasi global. Ketika negara pemasok mengalami konflik atau gangguan lainnya, Indonesia memiliki pilihan yang lebih kuat jika produksi domestik mampu memenuhi kebutuhan nasional. Dengan demikian, ketahanan pangan dapat menjadi bagian penting dalam menjaga stabilitas ekonomi dan sosial.
Pandangan tersebut sejalan dengan perhatian pemerintah terhadap peningkatan produksi sejumlah komoditas strategis. Dalam pidatonya pada Sidang Tahunan MPR RI, Presiden Prabowo menyampaikan bahwa Indonesia telah mencapai swasembada pada delapan komoditas pangan selama satu tahun terakhir. Capaian tersebut mencakup beras, jagung, gula konsumsi, gula industri, bawang putih, daging sapi, daging kerbau, dan kedelai. Pemerintah menilai peningkatan produksi pangan menjadi salah satu fondasi untuk memperkuat ketahanan nasional. Kebijakan tersebut sekaligus bertujuan mengurangi ketergantungan Indonesia terhadap pasokan pangan dari luar negeri.
Meski pemerintah mencatat kemajuan, Prabowo mengakui masih terdapat sejumlah komoditas yang membutuhkan penguatan produksi. Salah satu komoditas yang menjadi perhatian ialah bawang putih. Pemerintah menargetkan Indonesia mampu memenuhi kebutuhan bawang putih secara mandiri dalam tiga tahun mendatang. “Kita masih belum swasembada bawang putih, kita berjuang agar dalam tiga tahun kita bisa mencapai swasembada bawang putih,” kata Prabowo dalam pidatonya.
Selain bawang putih, pemerintah juga masih menghadapi tantangan dalam memenuhi kebutuhan daging sapi dan daging kerbau dari produksi domestik. Kebutuhan konsumsi nasional yang terus berkembang membuat pemerintah perlu memperkuat sektor peternakan sekaligus menjaga ketersediaan pangan berprotein. Prabowo menegaskan bahwa kebutuhan protein masyarakat secara umum tetap dapat terpenuhi melalui sejumlah sumber pangan lainnya. Ikan, telur, dan daging ayam menjadi beberapa komoditas yang dapat menopang kebutuhan protein masyarakat. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa strategi ketahanan pangan tidak hanya berfokus pada satu jenis komoditas, tetapi juga membutuhkan diversifikasi sumber pangan.
Upaya mencapai swasembada pangan juga menghadirkan tantangan yang cukup kompleks bagi Indonesia. Pemerintah perlu memastikan peningkatan produksi berjalan beriringan dengan penguatan distribusi, penyimpanan, serta stabilitas harga. Petani dan pelaku usaha pangan juga membutuhkan dukungan agar mampu meningkatkan produktivitas secara berkelanjutan. Di sisi lain, pemerintah perlu mengantisipasi berbagai faktor eksternal seperti perubahan iklim, gangguan perdagangan, hingga dinamika geopolitik. Langkah tersebut penting agar peningkatan produksi tidak hanya menghasilkan surplus pada periode tertentu, tetapi juga mampu menjaga ketersediaan pangan secara konsisten.
Konflik antara Kamboja dan Thailand menjadi pengingat bahwa stabilitas pasokan pangan global dapat berubah sewaktu-waktu. Gangguan hubungan antarnegara dapat memengaruhi aktivitas perdagangan, distribusi, dan ekspor-impor berbagai komoditas. Indonesia sebagai negara dengan jumlah penduduk besar membutuhkan sistem pangan yang tangguh untuk menghadapi berbagai kemungkinan tersebut. Ketersediaan stok dalam negeri dapat memberikan ruang bagi pemerintah untuk menjaga kebutuhan masyarakat ketika pasokan dari luar negeri mengalami kendala. Karena itu, capaian swasembada pangan menjadi salah satu modal penting dalam menghadapi ketidakpastian global.
Komeng juga menilai Indonesia perlu mempertahankan momentum peningkatan produksi pangan yang telah berjalan. Capaian swasembada pada sejumlah komoditas dapat menjadi dasar untuk memperkuat kemandirian pada komoditas lain yang masih bergantung pada impor. Pemerintah dapat mendorong peningkatan produktivitas melalui dukungan kepada petani, pengembangan teknologi pertanian, serta penguatan infrastruktur pangan. Upaya tersebut perlu berjalan secara konsisten agar Indonesia tidak mudah terpengaruh oleh perubahan pasokan di pasar internasional. Semakin kuat produksi domestik, semakin besar pula kemampuan Indonesia menjaga kebutuhan pangan masyarakat.
Swasembada pangan pada akhirnya tidak hanya menyangkut persoalan produksi, tetapi juga menyentuh aspek ketahanan nasional. Negara dengan kemampuan memenuhi kebutuhan pangannya sendiri memiliki posisi yang lebih kuat ketika menghadapi krisis global. Indonesia dapat mengurangi risiko kelangkaan komoditas apabila produksi dalam negeri mampu mencukupi kebutuhan masyarakat. Pemerintah juga dapat mengoptimalkan cadangan pangan sebagai instrumen untuk menghadapi kondisi darurat. Dengan pendekatan tersebut, kebijakan pangan dapat memberikan perlindungan bagi masyarakat sekaligus memperkuat ketahanan ekonomi nasional.
Pernyataan Komeng turut menegaskan pentingnya melihat ketahanan pangan dari perspektif jangka panjang. Konflik Kamboja dan Thailand memang menjadi salah satu faktor yang dapat mengganggu perdagangan regional, tetapi Indonesia juga menghadapi berbagai tantangan lain yang dapat memengaruhi sektor pangan. Perubahan cuaca, pertumbuhan penduduk, perubahan pola konsumsi, serta dinamika harga komoditas global membutuhkan kebijakan yang adaptif. Pemerintah perlu memastikan produksi pangan terus tumbuh sekaligus menjaga akses masyarakat terhadap pangan dengan harga yang terjangkau. Dengan demikian, swasembada dapat memberikan manfaat langsung bagi masyarakat dan tidak sekadar menjadi pencapaian statistik.
Capaian swasembada pada delapan komoditas yang disampaikan Prabowo menjadi bagian dari upaya tersebut. Pemerintah masih memiliki pekerjaan untuk memperkuat produksi bawang putih, daging sapi, dan daging kerbau agar kebutuhan nasional semakin banyak berasal dari produksi dalam negeri. Pada saat yang sama, keberadaan ikan, telur, dan daging ayam dapat membantu menjaga kecukupan protein masyarakat. Diversifikasi pangan juga dapat mengurangi tekanan terhadap satu jenis komoditas ketika produksi mengalami penurunan. Strategi tersebut membutuhkan koordinasi antara pemerintah, petani, peternak, pelaku usaha, dan masyarakat.
Dengan kondisi geopolitik yang terus berubah, Indonesia perlu memandang pangan sebagai sektor strategis. Ketersediaan produksi dalam negeri dapat menjadi benteng ketika perdagangan internasional menghadapi gangguan. Pesan Komeng mengenai pentingnya stok pangan menunjukkan bahwa hasil kerja pemerintah dalam meningkatkan produksi memiliki dampak yang lebih luas daripada sekadar memenuhi kebutuhan konsumsi. Swasembada juga memberikan ruang bagi Indonesia untuk mengurangi ketergantungan terhadap negara lain. Oleh sebab itu, penguatan ketahanan pangan perlu terus menjadi agenda utama pemerintah dalam menghadapi berbagai tantangan pada masa mendatang.













