Scroll untuk baca artikel
Example floating
Nasional

Dedi Mulyadi Tebang Pohon Angsana, Ini Alasannya

49
×

Dedi Mulyadi Tebang Pohon Angsana, Ini Alasannya

Sebarkan artikel ini

Dedi Mulyadi Tebang Pohon Angsana, Ini Alasannya

Dedi Mulyadi Tebang Pohon Angsana, Ini Alasannya

Megasora.com – Jakarta, Penataan kawasan halaman depan Gedung Sate di Kota Bandung berdampak pada hilangnya sejumlah vegetasi, termasuk pohon angsana yang sebelumnya tumbuh di sekitar Lapangan Gasibu. Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi, menjelaskan bahwa perubahan tersebut merupakan bagian dari program penataan ruang terbuka sekaligus upaya meningkatkan kualitas lingkungan.

Menanggapi sorotan publik mengenai berkurangnya pepohonan di kawasan tersebut, Dedi menegaskan bahwa pohon yang terdampak bukan merupakan pohon berukuran besar. Menurutnya, pemerintah telah mengganti setiap pohon yang dipindahkan dengan jumlah yang jauh lebih banyak.

“Oh iya (terdampak), pohonnya pohon kecil, bukan pohon besar ya. Pohonnya, pohon Angsana dan diganti dengan pohon yang lebih banyak lagi dan sudah ditanam dan sudah tumbuh. Jadi satu pohon diganti oleh 50 pohon. Silakan dicek tuh pohonnya sudah hidup sekarang di belakang Gedung Sate,” kata Dedi, Rabu (5/8/2026).

Dedi menjelaskan bahwa kebijakan mengganti pohon angsana tidak dilakukan tanpa pertimbangan. Ia menyebut keputusan tersebut berlandaskan kajian mengenai keberlanjutan lingkungan serta kemampuan berbagai jenis pohon dalam mendukung keseimbangan ekosistem di kawasan perkotaan.

Menurut Dedi, pohon angsana memiliki karakteristik yang dinilai kurang ideal apabila ditanam di tepi jalan. Ia berpendapat bahwa jenis pohon tersebut tidak memberikan manfaat optimal terhadap konservasi air apabila dibandingkan dengan jenis pohon lain, seperti asem jawa.

“Angsana itu kan pohon yang, menurut saya, malah harus diganti. Karena ketika angsana itu ada di pinggir jalan, dia tuh menyerap air bukan menghasilkan air,” ujarnya.

Selain mempertimbangkan aspek konservasi air, Dedi juga menilai pohon angsana kurang mampu mendukung keberlangsungan habitat satwa, terutama burung yang hidup di kawasan perkotaan. Oleh sebab itu, Pemerintah Provinsi Jawa Barat kini lebih memprioritaskan penanaman pohon asem jawa sebagai bagian dari strategi memperkuat fungsi ekologis ruang terbuka hijau.

“Dan burung itu enggak bisa tinggal di Angsana, makanya sekarang diganti oleh kita, kita banyak tanam pohon Asem Jawa sekarang ya,” tutur Dedi.

Sebelumnya, keberadaan sejumlah pohon di sisi timur Lapangan Gasibu menjadi perhatian masyarakat setelah proyek penataan halaman depan Gedung Sate berlangsung. Beberapa pohon yang sebelumnya tumbuh di lokasi tersebut sudah tidak terlihat seiring proses pembangunan yang masih berjalan.

Hingga kini, sebagian area proyek masih ditutup pagar pembatas, terutama di sepanjang Jalan Diponegoro yang berada tepat di depan Gedung Sate. Meski demikian, beberapa bagian hasil penataan telah dapat dimanfaatkan masyarakat, salah satunya jalur baru di Jalan Sentot Alibasyah yang berada di sisi timur Lapangan Gasibu. Ruas jalan tersebut kini bertambah dari dua lajur menjadi tiga lajur guna meningkatkan kapasitas lalu lintas.

Perubahan infrastruktur tersebut memunculkan perhatian karena deretan pohon yang sebelumnya berada di sisi timur Lapangan Gasibu sudah tidak lagi terlihat. Berdasarkan penelusuran melalui citra Google Maps yang merekam kondisi kawasan sebelum proyek dimulai, lokasi tersebut memang memperlihatkan keberadaan barisan pohon di sepanjang jalan. Namun, belum ada kepastian apakah pohon-pohon yang hilang itu merupakan pohon angsana yang dimaksud oleh Dedi atau berasal dari titik lain di sekitar kawasan penataan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *