Megasora.com – Jakarta, Presiden Amerika Serikat Donald Trump masih memiliki kewenangan untuk memerintahkan operasi militer lanjutan terhadap Iran meskipun saat ini kampanye pengeboman memasuki masa jeda. Situasi keamanan di kawasan Timur Tengah juga masih menunjukkan ketegangan sehingga berbagai skenario militer tetap berada dalam pertimbangan Washington.
Laporan RIA Novosti pada Senin mengutip pemberitaan The Wall Street Journal yang menyebutkan bahwa Trump memilih menunda rencana peningkatan operasi militer secara signifikan. Sejumlah pejabat Amerika Serikat mengungkapkan bahwa keputusan tersebut berkaitan dengan kekhawatiran pemerintah terhadap menipisnya stok rudal pertahanan udara apabila konflik berkembang menjadi lebih luas.
“Presiden masih memiliki sejumlah opsi yang dapat dijalankan sesuai perkembangan situasi di lapangan,” ujar seorang pejabat pemerintahan AS sebagaimana dikutip The Wall Street Journal.
Di sisi lain, pemerintahan Trump menyatakan bahwa beberapa negara di kawasan Teluk terus berupaya membuka kembali jalur diplomasi. Oman dan Qatar disebut aktif mendorong komunikasi antara pihak-pihak yang terlibat guna meredakan ketegangan dan mencari peluang penyelesaian melalui dialog.
Sementara itu, Axios melaporkan bahwa militer Amerika Serikat tetap menyusun berbagai rencana kontingensi apabila sewaktu-waktu diperlukan operasi berskala besar terhadap Iran. Meski demikian, hingga kini Trump belum memberikan instruksi resmi untuk melaksanakan langkah tersebut.
Menurut laporan tersebut, Trump pada Jumat memutuskan menghentikan serangan lanjutan sehingga rangkaian operasi militer yang berlangsung selama 13 hari untuk sementara berakhir. Keputusan itu tidak menutup kemungkinan munculnya tindakan baru apabila kondisi keamanan berubah.
“Seluruh opsi tetap tersedia dan akan dipertimbangkan berdasarkan perkembangan situasi,” demikian isi laporan Axios yang mengutip sumber di lingkungan pemerintahan AS.
Sebelumnya, pada malam menjelang 18 Juni, Washington dan Teheran menandatangani nota kesepahaman yang bertujuan mengakhiri konflik yang berlangsung sejak 28 Februari. Namun, upaya tersebut tidak bertahan lama karena sejak 8 Juli militer Amerika Serikat kembali melancarkan sejumlah serangan ke wilayah Iran.
Komando Pusat Amerika Serikat (US Central Command/CENTCOM) menjelaskan bahwa operasi tersebut merupakan respons atas tindakan Iran terhadap kapal-kapal komersial yang melintas di Selat Hormuz. Sebagai balasan, pasukan Iran menyerang sejumlah pangkalan militer Amerika Serikat yang berada di kawasan Timur Tengah.
Ketegangan semakin meningkat ketika Iran pada 12 Juli mengumumkan penutupan Selat Hormuz sampai Amerika Serikat menghentikan campur tangannya di kawasan. Pengumuman itu muncul setelah kedua negara kembali terlibat aksi saling serang dalam beberapa hari sebelumnya.
Sehari setelah pengumuman tersebut, Trump menegaskan bahwa Amerika Serikat akan mengambil peran untuk menjaga jalur pelayaran strategis itu. “Amerika Serikat akan menjadi penjaga Selat Hormuz,” kata Trump. Bersamaan dengan pernyataan tersebut, pemerintah AS juga kembali memberlakukan blokade terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran sebagai bagian dari tekanan yang diberikan kepada Teheran.













