Salah satu pernyataan yang paling banyak menuai kritik berkaitan dengan klaim bahwa masyarakat Melayu pada masa lampau memiliki kemampuan untuk terbang. Ia bahkan menyebut orang Melayu pernah mengajarkan teknik kung fu terbang kepada masyarakat China.
Pernyataan tersebut kemudian berkembang menjadi kontroversi di media sosial dan mendapat tanggapan dari sejumlah akademisi. Kritik muncul karena klaim itu dinilai tidak memiliki dasar sejarah yang kuat dan dapat memengaruhi pemahaman publik mengenai sejarah kawasan Asia Tenggara.
IIUM kemudian memberikan penjelasan mengenai status Solehah. Melalui Kantor Komunikasi Advokasi dan Promosi, universitas tersebut menyatakan bahwa Solehah sudah tidak menjadi bagian dari lingkungan akademik IIUM sejak 27 April 2026.
Universitas juga menegaskan bahwa Solehah tidak lagi memiliki kewenangan untuk mencantumkan jabatan, gelar profesor, ataupun hubungan resmi dengan IIUM dalam berbagai aktivitasnya.
“Dia bukan lagi profesor dan tidak berhak mengklaim hubungan apa pun dengan universitas,” demikian pernyataan IIUM sebagaimana dikutip South China Morning Post.
Namun, Solehah tidak menerima begitu saja keputusan tersebut. Mantan profesor bidang linguistik itu membawa persoalan pemberhentiannya ke pengadilan Malaysia dan mempertanyakan proses yang dilakukan pihak universitas.
Solehah menilai proses pemecatannya tidak berjalan secara profesional. Kepada media lokal Free Malaysia Today, ia mengatakan bahwa Kementerian Pendidikan Tinggi Malaysia bahkan memberikan penghargaan Malaysia Research Assessment kepadanya hanya sehari sebelum keputusan pemberhentian tersebut.
“Saya diberhentikan dalam waktu 24 jam dan tidak diperbolehkan mengajukan banding,” ujar Solehah seperti dikutip Free Malaysia Today.
Ia juga mengungkapkan bahwa IIUM sempat menawarkan kompensasi yang nilainya setara dengan enam bulan gaji. Namun, Solehah mengaku menolak tawaran tersebut.
Kontroversi terhadap Solehah tidak hanya berkaitan dengan pernyataannya mengenai kemampuan terbang masyarakat Melayu. Dalam sejumlah kesempatan, ia juga menyampaikan teori mengenai hubungan peradaban Melayu dengan berbagai bangsa dan peristiwa sejarah dunia.
Salah satu klaimnya menyebut masyarakat Romawi kuno mempelajari teknologi pembuatan kapal dari pelaut Melayu. Pernyataan tersebut kembali mendapat perhatian karena berbeda dengan pemahaman sejarah yang selama ini berkembang di kalangan akademisi.
Pada awal Agustus 2026, Solehah juga mengemukakan teori mengenai kandungan bijih besi di Kedah. Ia menduga sebagian kekayaan mineral di wilayah tersebut berkaitan dengan fenomena hujan meteor pada masa lampau.
Gunung Jerai di Kedah menjadi salah satu lokasi yang disebut dalam teorinya. Solehah menduga kawasan tersebut pernah mengalami hantaman meteor yang kemudian berkaitan dengan keberadaan sumber daya mineral di wilayah itu.
Ia juga pernah menghubungkan Khadijah, istri Nabi Muhammad, dengan dunia Melayu. Pernyataan tersebut turut menimbulkan perdebatan karena menyentuh persoalan sejarah, agama, dan hubungan antarkawasan yang memiliki konteks akademik cukup kompleks.
Selain itu, Solehah pernah mengkritik masyarakat Melayu pada masa awal karena menerima pengaruh Hindu-Buddha yang berkembang di kawasan tersebut. Pandangannya mengenai sejarah Melayu kemudian menjadi bagian dari perdebatan yang lebih luas di media sosial.
Kontroversi lain muncul terkait sebuah artikel akademik yang ditulisnya pada 2018. Artikel tersebut mendapat sorotan setelah ditemukan bahwa salah satu bahan yang digunakan sebagai rujukan berasal dari tulisan satir media Amerika Serikat, The Onion.
Sejumlah sejarawan dan akademisi kemudian mempertanyakan validitas berbagai klaim tersebut. Mereka menilai beberapa pernyataan Solehah sulit diterima secara akademik karena tidak didukung bukti sejarah yang memadai.
Akademisi bidang kajian Asia dari University of Tasmania, James Chin, juga menyoroti aktivitas Solehah di luar lingkungan kampus. Menurutnya, Solehah tidak hanya menyampaikan teori tersebut melalui tulisan atau pernyataan akademik, tetapi juga mengembangkan kegiatan wisata yang berkaitan dengan pandangan sejarahnya.
Chin menyebut Solehah memimpin sebuah perjalanan menggunakan kapal pesiar yang ditawarkan kepada publik secara berbayar. Perjalanan tersebut berlangsung selama empat hari tiga malam dengan rute dari Port Klang menuju Phuket.
Pelayaran itu dijadwalkan berlangsung pada 30 November hingga 3 Desember 2026. Dalam agenda tersebut, Solehah dijadwalkan menyampaikan materi berjudul “The Mystery of the Roman Ship Deception” atau “Misteri Tipu Daya Kapal Romawi”.
Acara tersebut akan berlangsung di atas kapal Adora Mediterranea. Menurut Chin, perjalanan itu dirancang dengan mengunjungi sejumlah lokasi yang dianggap memiliki keterkaitan dengan teori sejarah yang selama ini disampaikan Solehah.
Chin menilai aktivitas tersebut menunjukkan bahwa teori yang dikemukakan Solehah tidak berhenti pada lingkungan akademik. Teori itu juga menjadi bagian dari kegiatan yang ditawarkan kepada masyarakat umum.
Ia mengatakan Solehah telah menyampaikan berbagai klaim kontroversial selama beberapa tahun. Namun, menurut Chin, pernyataan-pernyataan tersebut sebelumnya belum mendapat konsekuensi serius hingga akhirnya memperoleh perhatian besar dari pengguna media sosial.
“Sungguh luar biasa bahwa IIUM mengambil tindakan sebagai respons terhadap reaksi keras di media sosial,” ujar Chin kepada This Week in Asia.
Menurut Chin, perkembangan kasus tersebut juga memperlihatkan adanya persoalan lebih luas dalam lingkungan akademik Malaysia. Ia menilai perguruan tinggi memiliki tanggung jawab untuk memastikan pernyataan yang keluar dari lingkungan akademik tetap mengikuti prinsip ilmiah.
“Universitas bertanggung jawab atas apa yang mereka lakukan karena, untuk waktu yang lama, ada banyak hal tidak masuk akal yang terjadi di universitas-universitas Malaysia, dengan akademisi membicarakan banyak hal yang gila,” pungkasnya.
Kasus Solehah kini tidak hanya menjadi perdebatan mengenai kebebasan akademik dan batas-batas penyampaian teori sejarah. Persoalan tersebut juga memunculkan pertanyaan tentang tanggung jawab perguruan tinggi dalam menjaga standar ilmiah, terutama ketika pernyataan seorang akademisi mendapat perhatian luas di ruang publik.
Di sisi lain, proses hukum yang ditempuh Solehah terhadap IIUM masih menjadi bagian penting dari perkembangan kasus tersebut. Sengketa itu berpotensi menentukan bagaimana universitas dan akademisi mempertanggungjawabkan pernyataan maupun aktivitas yang mereka lakukan di luar lingkungan kampus.
Perdebatan mengenai sejarah Melayu pun kembali mencuat. Kasus tersebut menunjukkan bahwa teori mengenai masa lalu tidak hanya membutuhkan narasi yang menarik, tetapi juga harus mendapat dukungan bukti, sumber primer, serta kajian ilmiah yang dapat dipertanggungjawabkan.











