Megasora.com – Jakarta, Presiden Amerika Serikat Donald Trump menepis kabar yang menyebut persediaan amunisi militer negaranya mulai menipis akibat perang yang masih berlangsung dengan Iran. Ia menegaskan bahwa Amerika Serikat tetap memiliki stok senjata dalam jumlah besar dan terus meningkatkan produksi untuk memenuhi kebutuhan operasional.
Pernyataan tersebut disampaikan Trump melalui akun media sosial Truth Social pada Kamis (6/8/2026), sebagai respons terhadap sejumlah laporan media yang menyoroti kondisi persenjataan militer AS. Menurutnya, informasi yang beredar tidak mencerminkan situasi sebenarnya.
“AS memiliki sejumlah besar ‘amunisi,’ terutama jenis tertentu,” tulis Trump dalam unggahannya. Ia menambahkan, “Selain itu, sejumlah besar amunisi sedang diproduksi dan dikirim ke AS sesuai kebutuhan.”
Trump juga mengecam pemberitaan yang menyinggung dugaan berkurangnya stok persenjataan Amerika Serikat. Ia menilai laporan tersebut tidak berdasar dan bahkan menyebutnya sebagai tindakan yang merugikan kepentingan negara.
“Saya benar-benar percaya ‘pelaporan’ palsu mereka adalah pengkhianatan!” tegas Trump dalam unggahan berikutnya.
Presiden AS itu juga menyampaikan bahwa pemerintah tengah mencari pihak-pihak yang diduga membocorkan informasi internal kepada media. Menurut Trump, kebocoran informasi terkait pertahanan nasional merupakan persoalan serius yang dapat membahayakan keamanan negara.
“Para ‘pembocor’ pernyataan pengkhianatan ini sedang diburu. Hukuman penjara jangka panjang akan diupayakan!” ujarnya.
Pernyataan tersebut muncul ketika Pentagon menghadapi sorotan terkait kemampuan mempertahankan pasokan senjata di tengah perang Iran yang telah memasuki bulan keenam. Konflik yang belum menunjukkan tanda-tanda penyelesaian membuat kebutuhan amunisi terus meningkat.
Sorotan semakin menguat setelah laporan Washington Post yang terbit pada Rabu (5/8/2026) menyebut Trump sempat berselisih pendapat dengan Menteri Pertahanan Pete Hegseth mengenai kondisi stok persenjataan militer AS. Laporan itu mengutip sumber anonim, meski hingga kini belum memperoleh konfirmasi independen dari BBC.
Trump sendiri membantah adanya hubungan yang memburuk dengan Hegseth. Ia justru memberikan dukungan terhadap kinerja menteri pertahanannya tersebut.
“Saya sangat senang dengan pekerjaan yang dilakukan Pete Hegseth,” tulis Trump.
Sementara itu, CBS News mengutip dua narasumber yang mengetahui perkembangan situasi dan melaporkan bahwa Amerika Serikat telah menggunakan sebagian besar persediaan rudal presisi jarak jauhnya sejak perang berlangsung.
Pemerintah AS memang tidak pernah membuka secara rinci jumlah stok rudal yang dimiliki karena informasi tersebut tergolong rahasia negara. Sejak menjabat sebagai Menteri Pertahanan, Hegseth juga memperketat akses informasi bagi media di lingkungan Pentagon.
Meski demikian, lembaga kajian keamanan Center for Strategic and International Studies (CSIS) mencoba memperkirakan kondisi persediaan rudal Amerika Serikat berdasarkan data yang tersedia untuk publik. CSIS memperkirakan hingga akhir Juli, AS masih memiliki sekitar 759 hingga 827 rudal Patriot, atau sekitar sepertiga dari total sekitar 2.330 rudal sebelum konflik dimulai.
Penasihat senior CSIS sekaligus pensiunan Kolonel Korps Marinir AS, Mark Cancian, juga memperkirakan sekitar 60 persen rudal sistem Terminal High Altitude Area Defense (THAAD) telah digunakan untuk menghadapi berbagai serangan selama konflik berlangsung.
Menurut Cancian, tantangan terbesar bukan hanya penggunaan amunisi dalam jumlah besar, tetapi juga lamanya proses pengadaan senjata modern. Mulai dari pendanaan, pemesanan, produksi hingga distribusi membutuhkan waktu yang tidak singkat sehingga pengisian kembali stok tidak dapat dilakukan secara instan.
Tekanan terhadap cadangan persenjataan Amerika Serikat juga dipengaruhi tingginya kebutuhan dari kawasan lain. Sejak invasi Rusia ke Ukraina pada 2022, Washington terus memasok rudal Patriot kepada Kyiv. Kondisi tersebut ikut mengurangi stok nasional sehingga Pentagon diperkirakan akan lebih selektif dalam mengirim bantuan militer ke luar negeri.
Dalam rapat kabinet yang berlangsung pada Jumat (31/7/2026), Trump mengakui bahwa permintaan tambahan rudal Patriot dari Ukraina masih menjadi pembahasan. Ia menyebut pemberian bantuan baru akan menjadi “langkah besar”, namun menegaskan bahwa pemerintah AS dan Ukraina masih melanjutkan pembicaraan mengenai hal tersebut.













