Scroll untuk baca artikel
Example floating
Internasional

AS Siapkan Perang Antariksa hingga Bulan

111
×

AS Siapkan Perang Antariksa hingga Bulan

Sebarkan artikel ini

AS Siapkan Perang Antariksa hingga Bulan

AS Siapkan Perang Antariksa hingga Bulan

Megasora.com – Jakarta,  Amerika Serikat (AS) mulai memperluas persiapan militernya untuk menghadapi kemungkinan konflik di luar orbit Bumi, termasuk wilayah yang berada di antara orbit Bumi dan Bulan.

Pernyataan tersebut disampaikan Ketua Kepala Staf Gabungan AS, Jenderal Dan Caine, dalam konferensi Air, Space and Cyber di National Harbor, Maryland, pada Rabu (16/9/2026).

Caine mengatakan militer AS perlu beradaptasi sejak sekarang untuk menghadapi perkembangan ancaman di masa mendatang. Menurut dia, kesiapan militer tidak lagi hanya berfokus pada wilayah darat, laut, udara, dan orbit Bumi, tetapi juga mencakup kawasan cislunar atau wilayah ruang angkasa di sekitar Bulan.

“Siap untuk bertempur, bertahan, dan menang dari dasar laut hingga ruang cislunar,” ujar Caine dalam konferensi tersebut.

Kebijakan ini tengah dipersiapkan oleh Space Force, cabang terbaru dalam militer AS yang dibentuk pada 2019. Perluasan fokus ke wilayah cislunar dilakukan seiring dengan meningkatnya aktivitas manusia di luar orbit Bumi.

Letnan Jenderal Gregory Gagnon, yang memimpin Combat Forces Command di Space Force, mengatakan perkembangan aktivitas manusia di luar angkasa membuat AS perlu mempersiapkan kemampuan untuk melindungi kepentingannya.

Menurut Gagnon, Space Force memiliki peran dalam memastikan AS siap menghadapi berbagai kemungkinan ancaman di ruang angkasa.

Space Force akan Diperbesar

Selain memperluas cakupan operasi hingga kawasan sekitar Bulan, AS juga berencana meningkatkan jumlah personel Space Force secara signifikan.

Gagnon mengatakan jumlah personel Space Force ditargetkan meningkat dua kali lipat dalam lima tahun mendatang hingga mencapai sekitar 25.000 anggota. Sekitar dua pertiga dari tambahan personel tersebut akan ditempatkan di Combat Forces Command.

Langkah tersebut, kata Gagnon, berkaitan dengan upaya membangun kemampuan pertahanan sekaligus menciptakan efek tangkal terhadap pihak yang berpotensi menjadi lawan AS.

“Kami memiliki kemampuan di dalam militer karena kami bersiap untuk membela negara. Alasan kami memiliki kemampuan ini adalah untuk membantu menciptakan daya tangkal,” kata Gagnon.

AS Ungkap Senjata di Orbit

Rencana penguatan kemampuan militer di ruang angkasa itu muncul tidak lama setelah Menteri Angkatan Udara AS Troy Meink mengungkapkan bahwa negaranya telah menempatkan senjata pengendali ruang angkasa di orbit.

Dalam forum yang sama, Meink menyebut AS telah memiliki “on-orbit space control weapons”.

Pengungkapan tersebut menambah perhatian terhadap meningkatnya aktivitas militer di ruang angkasa. Selama ini, terdapat pemahaman internasional bahwa luar angkasa semestinya digunakan untuk kepentingan damai dan tidak menjadi arena perlombaan persenjataan.

AS dan sejumlah negara memang pernah menunjukkan kemampuan menghancurkan satelit di orbit Bumi. Namun, demonstrasi sebelumnya dilakukan dengan menggunakan sistem dari darat untuk menargetkan satelit milik negara masing-masing.

Gagnon mengatakan langkah AS berkaitan dengan penilaian intelijen mengenai meningkatnya potensi ancaman di ruang angkasa. Ia menyebut sejumlah negara yang dianggap sebagai calon lawan AS mulai mengembangkan kemampuan untuk memperluas konflik ke domain tersebut.

“Komunitas intelijen telah jelas menyatakan bahwa calon lawan berupaya memperluas peperangan ke luar angkasa,” kata Gagnon.

Ia juga secara khusus menyebut China sebagai salah satu negara yang aktivitasnya menjadi perhatian AS.

“Calon lawan kami seperti China secara aktif mengejar aktivitas di dalam sistem tersebut, di bagian-bagian luar angkasa,” ujarnya.

China sendiri membentuk pasukan militer luar angkasa pada 2024. Pembentukan tersebut ditujukan antara lain untuk meningkatkan kemampuan menghadapi dan mengelola berbagai kemungkinan krisis di ruang angkasa.

China Keberatan

Pemerintah China merespons pengumuman AS mengenai penempatan persenjataan di ruang angkasa dengan menyampaikan keberatan.

Juru Bicara Kementerian Luar Negeri China Guo Jiakun mengatakan Beijing mendukung pemanfaatan luar angkasa untuk kepentingan damai dan menolak meningkatnya aktivitas militer di kawasan tersebut.

“China selalu mendukung penggunaan luar angkasa untuk tujuan damai, menjaga keamanan luar angkasa, serta menentang persenjataan, militerisasi, dan perlombaan senjata di luar angkasa,” kata Guo kepada wartawan pada Selasa (15/9/2026).

Guo juga meminta AS menghentikan perluasan aktivitas persiapannya di ruang angkasa.

Di sisi lain, hingga kini masih terdapat pertanyaan mengenai bagaimana status hukum penempatan senjata di orbit maupun kemungkinan penggunaan sistem persenjataan di sekitar Bulan berdasarkan ketentuan internasional.

Salah satu aturan yang menjadi rujukan adalah Outer Space Treaty 1967 atau Perjanjian Luar Angkasa 1967. AS dan China merupakan negara yang menandatangani perjanjian tersebut.

Perjanjian itu mengatur bahwa benda-benda langit, termasuk Bulan, digunakan “exclusively for peaceful purposes” atau secara eksklusif untuk tujuan damai. Perjanjian tersebut juga melarang penempatan senjata nuklir di ruang angkasa serta mengatur tanggung jawab negara atas kerusakan yang ditimbulkan oleh objek luar angkasanya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *