Scroll untuk baca artikel
Example floating
Internasional

Pesona Danau Surgawi Xinjiang

57
×

Pesona Danau Surgawi Xinjiang

Sebarkan artikel ini

Pesona Danau Surgawi Xinjiang

Danau Tianshan Tianchi di Daerah Otonomi Uighur Xinjiang

Megasora.com – Jakarta, Xinjiang menawarkan lanskap alam yang seolah merangkum banyak wajah dalam satu wilayah. Pegunungan yang diselimuti salju, hamparan gurun, padang rumput, hutan hijau, hingga danau berair jernih hadir dalam satu bentang geografis yang luas. Kawasan di barat laut Tiongkok itu menyimpan kekayaan alam yang menjadi daya tarik tersendiri bagi wisatawan.

Dengan luas sekitar 1,66 juta kilometer persegi, Daerah Otonomi Uighur Xinjiang tercatat sebagai wilayah administratif terluas di Tiongkok. Luas tersebut mencakup hampir seperenam wilayah daratan negara itu. Posisi geografis Xinjiang juga membuat kawasan ini memiliki karakter alam yang sangat beragam.

Xinjiang selama bertahun-tahun juga menjadi bagian dari perbincangan internasional terkait isu hak asasi manusia, terutama menyangkut perlakuan terhadap masyarakat Uighur dan komunitas Muslim lainnya. Sejumlah lembaga HAM internasional menyampaikan berbagai tuduhan, sementara Pemerintah Tiongkok berulang kali menolak tuduhan tersebut.

Di tengah kompleksitas persoalan tersebut, Xinjiang juga memiliki potensi pariwisata alam yang sangat besar. Keindahan bentang alamnya menjadi salah satu sisi lain dari kawasan yang berbatasan dengan sejumlah negara di Asia Tengah itu.

Data sensus penduduk 2020 mencatat masyarakat Uighur sebagai kelompok etnis terbesar di Xinjiang. Jumlahnya mencapai sekitar 11,62 juta jiwa atau 44,96 persen dari keseluruhan penduduk di wilayah tersebut.

Lanskap alam yang beragam

Karakter geografis Xinjiang terbentuk oleh rangkaian pegunungan dan cekungan besar yang membentang dari utara hingga selatan. Struktur alam tersebut menghasilkan perbedaan lanskap yang sangat mencolok, mulai dari kawasan gurun hingga pegunungan tinggi.

Di bagian utara terdapat Pegunungan Altai dan Cekungan Junggar. Di kawasan cekungan tersebut terbentang Gurun Gurbantünggüt yang menjadi salah satu gurun pasir terbesar di Tiongkok.

Sementara di selatan berdiri Pegunungan Kunlun yang menjadi salah satu batas alami menuju Dataran Tinggi Tibet. Di antara kawasan pegunungan tersebut terdapat Cekungan Tarim yang menjadi lokasi Gurun Taklamakan, gurun pasir terbesar di Tiongkok.

Pegunungan Tianshan membentang di bagian tengah Xinjiang dengan arah barat-timur. Rangkaian pegunungan tersebut secara geografis membagi Xinjiang menjadi kawasan utara dan selatan.

Di kawasan Pegunungan Tianshan terdapat salah satu tujuan wisata alam paling populer, yakni Danau Tianshan Tianchi. Danau tersebut berada di Lembah Gunung Bogda dan secara administratif masuk wilayah Kota Fukang.

Dari Urumqi, ibu kota Xinjiang, kawasan Danau Tianchi berjarak sekitar 110 kilometer. Perjalanan menuju lokasi dapat ditempuh menggunakan kendaraan darat dalam waktu sekitar satu setengah jam.

Danau yang dijuluki surgawi

Nama Tianchi memiliki arti “Danau Surgawi”. Sebutan tersebut terasa selaras dengan panorama yang tersaji ketika pengunjung tiba di kawasan wisata.

Air danau tampak berwarna biru kehijauan dengan latar pegunungan yang ditumbuhi hutan cemara dan pinus. Dalam kondisi tertentu, warna permukaan air dapat terlihat seperti hijau giok hingga toska.

Danau Tianchi memiliki bentuk menyerupai bulan sabit dengan luas sekitar 4,9 kilometer persegi. Permukaan danau berada pada ketinggian sekitar 1.910 hingga 1.980 meter di atas permukaan laut, sedangkan bagian terdalamnya mencapai sekitar 105 meter.

Keindahan kawasan tersebut tidak hanya dapat dinikmati dari tepian. Pengelola menyediakan kapal bertenaga listrik yang membawa wisatawan berkeliling danau.

Namun, wisatawan tidak diperbolehkan melakukan aktivitas berenang maupun memancing. Kepala Seksi Ekologi dan Lingkungan Hidup Komite Manajemen Danau Tianshan, He Xianglan, menjelaskan bahwa pengunjung dapat menikmati panorama dari tepian atau menggunakan kapal listrik.

“Pengunjung tidak boleh berenang atau memancing ikan di sini. Pengunjung cukup menikmati keindahan danau dari tepi atau berlayar menggunakan kapal listrik yang telah disediakan,” kata He saat ditemui ANTARA di kawasan Danau Tianshan, Sabtu (29/8/2026).

Popularitas kawasan ini terlihat dari jumlah kunjungan wisatawan. Sepanjang 2025, sekitar 3,4 juta wisatawan datang ke Danau Tianchi. Angka tersebut meningkat sekitar 10 persen dibandingkan tahun sebelumnya.

Menurut He, Danau Tianchi tidak hanya menarik wisatawan pada satu periode tertentu. Perubahan musim justru memberikan pengalaman berbeda bagi pengunjung sepanjang tahun.

“Tidak ada musim puncak (peak season) untuk kunjungan wisatawan di sini karena sepanjang tahun selalu ada pengunjung. Danau Tianchi menawarkan keindahan yang berbeda pada setiap musimnya,” ujar He.

Saat memasuki musim dingin, suhu rendah membuat permukaan Danau Tianchi biasanya membeku mulai Desember hingga sekitar April. Kondisi tersebut kemudian membuka kesempatan bagi wisatawan untuk menikmati aktivitas musim dingin di kawasan sekitarnya.

Salah satu fasilitas yang tersedia ialah Resor Ski Internasional Tianshan Tianchi. Resor tersebut memiliki tujuh lintasan ski yang melayani wisatawan mulai dari tingkat pemula hingga pemain berpengalaman.

Ketika musim panas tiba, panorama kawasan berubah. Hutan alam seluas sekitar 114,66 ribu hektare menjadi salah satu daya tarik utama bagi wisatawan yang ingin menikmati suasana pegunungan.

Wisatawan dapat menjelajahi kawasan hutan atau menikmati perjalanan menggunakan kapal listrik di atas danau. Vegetasi di kawasan tersebut didominasi pohon cemara Schrenkiana varian Tianshan yang tumbuh membentuk kanopi alami.

Di bawah pepohonan, berbagai jenis tumbuhan semak tumbuh berdampingan, antara lain mawar, honeysuckle, dan hawthorn. Kawasan terbuka juga menghadirkan bunga liar seperti Myosotis atau forget-me-not, Radiola, serta teratai salju Tianshan yang dikenal sebagai salah satu tanaman khas kawasan pegunungan tersebut.

Hutan di sekitar Danau Tianchi juga menjadi habitat berbagai satwa. Salah satunya macan tutul salju yang hidup di kawasan pegunungan. Selain itu, wisatawan dapat menjumpai rusa merah Tianshan yang mencari makan di antara rerumputan di bawah pepohonan.

Menyimpan kisah legenda

Tidak jauh dari kawasan Danau Tianchi terdapat Danau Feilong atau Kolam Naga Terbang. Perairan seluas sekitar 10.000 meter persegi tersebut berada di lereng gunung pada ketinggian sekitar 1.875 meter.

Air Danau Feilong berasal dari aliran limpasan Danau Tianchi yang bergerak melalui saluran di sisi timur laut. Kedalaman danau berkisar antara enam hingga 11 meter.

Air terjun muncul pada bagian saluran masuk dan keluar danau. Aliran air tersebut dari kejauhan tampak seperti seekor naga putih yang meluncur dari pegunungan.

Gambaran itulah yang kemudian melahirkan nama Lembah Bailong atau Lembah Naga Putih. Pepohonan cemara Schrenkiana dan bunga liar mengelilingi danau, menambah kesan alami kawasan tersebut.

Danau Feilong juga memiliki cerita dalam mitologi setempat. Legenda menyebut kawasan itu sebagai tempat Ratu Surga Barat membasuh kaki. Cerita rakyat juga mengaitkan danau tersebut dengan keberadaan seekor naga hitam.

Namun, kisah paling terkenal mengenai Tianchi berkaitan dengan Xi Wangmu atau Ratu Surga Barat. Dalam mitologi Tiongkok, sosok tersebut dikenal sebagai penguasa keabadian dan penjaga rahasia kehidupan abadi.

Tianchi dipercaya sebagai Yaochi atau Kolam Giok, tempat yang menjadi bagian dari taman istana musim panas sang dewi. Kisah tersebut kemudian berkembang menjadi legenda yang dikenal luas masyarakat Tiongkok.

Legenda itu menceritakan pertemuan Ratu Surga Barat dengan Kaisar Mu dari Dinasti Zhou. Saat melakukan perjalanan ke arah barat, Kaisar Mu disebut mencapai Gunung Kunlun, tempat tinggal sang dewi.

Ratu Surga Barat kemudian mengundang Kaisar Mu ke istananya di kawasan Tianchi. Keduanya menikmati jamuan bersama, sementara sang dewi menyampaikan sejumlah ajaran rahasia kepada sang kaisar.

Ketika Kaisar Mu hendak meninggalkan tempat tersebut, Ratu Surga Barat menyampaikan sebuah pertanyaan dalam bentuk puisi. Ia ingin mengetahui apakah sang kaisar akan kembali mengunjunginya.

Kaisar Mu kemudian berjanji akan kembali setelah menyelesaikan tugasnya memimpin rakyat dan membawa kemakmuran bagi negerinya. Namun, perjalanan itu tidak pernah terjadi.

Kisah tersebut kemudian menjadi bagian dari daya tarik budaya Danau Tianchi. Sebagai penanda legenda tersebut, Kuil Ratu Surga Barat Xi Wangmu berdiri di sisi timur danau.

Popularitas legenda tersebut membuat pengelola tidak merasa perlu mengandalkan festival besar untuk menarik wisatawan. He mengatakan masyarakat Tiongkok sudah cukup mengenal kisah yang melekat pada Danau Tianchi.

“Oleh karena itu, kami tidak menggelar acara sepeda gunung, lari trail, atau festival tertentu untuk mempromosikan Danau Tianchi. Kisah danau ini sudah dikenal luas oleh masyarakat Tiongkok. Masyarakat dari berbagai daerah ingin datang dan melihat langsung Danau Tianchi karena mereka sudah sangat familier dengan cerita rakyat tersebut,” jelas He.

Pariwisata berjalan bersama konservasi

Tingginya jumlah wisatawan mendorong pengelola kawasan untuk memperkuat upaya menjaga lingkungan. Sejak 2016, pengelola telah mengalokasikan investasi lebih dari 1 miliar yuan atau sekitar Rp2,1 triliun untuk berbagai program konservasi.

Dana tersebut mendukung restorasi ekologi, perlindungan lahan basah, penghijauan, serta sejumlah kegiatan lain yang bertujuan mempertahankan kondisi lingkungan kawasan.

Pemerintah setempat juga membatasi aktivitas penggembalaan ternak. Larangan tersebut berlaku pada area yang luasnya hampir mencapai 330 kilometer persegi.

Upaya pemulihan kemudian menghasilkan perubahan pada kondisi lingkungan. Luas lahan yang berhasil dipulihkan tercatat hampir 100 ribu hektare.

Selain itu, simpanan karbon meningkat sekitar 328.800 meter kubik. Tutupan vegetasi padang rumput juga menunjukkan peningkatan signifikan, dari sekitar 34 persen pada 2012 menjadi 90 persen saat ini.

Pengelola turut mengembangkan sistem energi terbarukan untuk mendukung aktivitas pariwisata. Kendaraan listrik, kapal wisata, armada antar-jemput, fasilitas makanan, hingga sistem pemanas memanfaatkan sumber energi tersebut.

Di kawasan inti Danau Tianchi, seluruh kebutuhan energi kini berasal dari pembangkit tenaga angin dan surya. Kebijakan itu sekaligus mengurangi ketergantungan terhadap bahan bakar fosil dalam kegiatan wisata.

Penggunaan kapal listrik juga membantu menjaga kualitas lingkungan danau. Pengunjung tidak lagi mencium aroma bahan bakar diesel dari kapal yang beroperasi di permukaan air.

“Perahu wisata sudah diganti dengan motor listrik, sehingga tidak ada lagi bau solar di permukaan danau,” kata He.

Pengelola juga memasang sejumlah stasiun pemantauan lingkungan di berbagai titik. Perangkat tersebut mengumpulkan data mengenai kualitas udara, temperatur, kelembapan, kecepatan dan arah angin, hingga kadar ion oksigen negatif.

Data yang terkumpul membantu pengelola memahami kondisi lingkungan secara berkala. Informasi tersebut menjadi bagian dari pendekatan pengelolaan kawasan hutan dan danau berbasis data.

“Kami menempatkan stasiun pemantauan tersebut di berbagai titik kawasan hutan dan danau, sehingga data terkini dapat diperoleh secara berkala,” ujar He.

Akses menuju Tianchi

Wisatawan yang berangkat dari Urumqi dapat mencapai kawasan Danau Tianchi menggunakan bus maupun kendaraan pribadi. Perjalanan darat membutuhkan waktu sekitar 1,5 jam, tergantung kondisi perjalanan.

Pengelola menetapkan tiket masuk sebesar 95 yuan atau sekitar Rp210.000 per orang untuk periode April hingga Oktober. Pada November hingga Maret, harga tiket turun menjadi 45 yuan atau sekitar Rp100.000.

Setelah melewati pintu masuk utama, wisatawan tidak langsung menggunakan kendaraan pribadi menuju area danau. Pengunjung perlu melanjutkan perjalanan menggunakan bus listrik yang disediakan pengelola.

Layanan antar-jemput tersebut mematok tarif sekitar 60 yuan atau Rp133.000 per orang. Perjalanan dari pintu masuk menuju kawasan danau memerlukan waktu sekitar 40 menit.

Dengan kombinasi panorama pegunungan, air danau yang jernih, hutan alami, satwa liar, legenda kuno, serta pendekatan pengelolaan lingkungan berbasis energi terbarukan, Danau Tianchi menjadi salah satu destinasi unggulan di Xinjiang.

Keindahan Tianchi pada akhirnya tidak hanya terletak pada warna air dan pegunungan yang mengelilinginya. Danau tersebut juga memperlihatkan bagaimana alam, legenda, dan pariwisata dapat berpadu menjadi sebuah pengalaman yang membuat wisatawan ingin datang dan menyaksikannya secara langsung.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *