Scroll untuk baca artikel
Example floating
Kriminal

Sadis! Saepul Mutilasi Kenalan Medsos

35
×

Sadis! Saepul Mutilasi Kenalan Medsos

Sebarkan artikel ini

Sadis! Saepul Mutilasi Kenalan Medsos

Sadis! Saepul Mutilasi Kenalan Medsos

Megasora.com – Jakarta, Misteri penemuan jasad pria tanpa kedua kaki yang ditemukan di kawasan Tanah Merah, Pancoran Mas, Kota Depok, akhirnya berhasil diungkap aparat kepolisian. Korban berinisial K (51) diketahui tewas setelah menjadi korban pembunuhan yang dilakukan seorang pria bernama Saepul (26), yang sebelumnya berkenalan dengannya melalui media sosial.

Jasad korban pertama kali ditemukan warga pada Selasa (4/8/2026) sore di sebuah lahan kosong. Saat ditemukan, tubuh korban berada di dalam karung beras yang dilapisi plastik berwarna hitam. Warga semula mengira karung tersebut hanya berisi tumpukan sampah karena sudah tergeletak di lokasi sejak 24 Juli 2026.

Kecurigaan baru muncul ketika warga berniat membakar karung tersebut. Saat karung dibuka, mereka justru menemukan jasad manusia dengan kondisi tidak utuh. Penemuan itu kemudian dilaporkan kepada Bhabinkamtibmas dan diteruskan ke Polsek Pancoran Mas untuk dilakukan olah tempat kejadian perkara (TKP) serta proses identifikasi.

Hasil identifikasi memastikan korban merupakan pria berinisial K, warga Cipayung, Kota Depok. Polisi kemudian mengumpulkan berbagai barang bukti, memeriksa saksi, dan menelusuri aktivitas terakhir korban hingga penyelidikan mengarah kepada seorang pria bernama Saepul.

Tim Subdirektorat Reserse Mobile Direktorat Reserse Kriminal Umum Polda Metro Jaya akhirnya berhasil menangkap Saepul saat berusaha melarikan diri ke wilayah Pandeglang, Banten, pada Rabu (5/8/2026) dini hari.

“Pelaku ditangkap oleh Tim Subdit Resmob Polda Metro Jaya hari Rabu, tanggal 5 Agustus 2026, pukul 04.15 WIB, di Pandeglang, Banten, saat melarikan diri,” ujar Kanit 1 Subdit Resmob Ditreskrimum Polda Metro Jaya, Kompol Dimitri Mahendra Kartika.

Dari hasil pemeriksaan, polisi mengungkap bahwa pelaku dan korban telah saling mengenal melalui media sosial sebelum akhirnya sepakat bertemu di sebuah rumah kontrakan di kawasan Cipayung pada 23 Juli 2026.

Kabid Humas Polda Metro Jaya, Kombes Budi Hermanto, mengatakan pertemuan tersebut berubah menjadi pertengkaran yang berujung pada aksi kekerasan.

“Hasil pemeriksaan mengungkap bahwa Saepul (S) dan korban berkenalan melalui media sosial,” kata Budi Hermanto.

Menurut Budi, percekcokan yang terjadi membuat pelaku kehilangan kendali hingga menyerang korban menggunakan pisau.

“Pertemuan tersebut berujung cekcok hingga pelaku menusuk bagian perut dan menggorok leher korban menggunakan pisau,” ungkapnya.

Setelah memastikan korban meninggal dunia, pelaku berupaya menghilangkan jejak dengan memotong tubuh korban pada bagian pangkal paha. Tubuh korban kemudian dibungkus menggunakan plastik hitam dan dimasukkan ke dalam karung sebelum dibuang di kawasan Tanah Merah, Pancoran Mas.

Sementara itu, kedua kaki korban dibuang secara terpisah ke aliran sungai di wilayah Pitara.

“Untuk menghilangkan jejak, pelaku memutilasi tubuh korban pada bagian pangkal paha, membungkus jasad menggunakan plastik hitam dan karung, kemudian membuang tubuh korban di kawasan Tanah Merah,” tutur Budi.

“Sedangkan potongan kedua kaki dibuang ke aliran sungai di wilayah Pitara, Pancoran Mas,” sambungnya.

Polisi juga mengungkap kronologi lengkap berdasarkan hasil penyidikan. Saepul dan korban awalnya menjalin komunikasi melalui media sosial hingga akhirnya sepakat bertemu di kontrakan pelaku.

“Saepul (SA) dan korban berkenalan melalui media sosial sebelum sepakat bertemu di sebuah kontrakan di wilayah Cipayung pada 23 Juli 2026,” ujar Budi.

Dalam pertemuan itu, keduanya terlibat adu mulut yang kemudian berkembang menjadi aksi penganiayaan hingga menyebabkan korban kehilangan nyawa.

Usai membuang jasad korban, pelaku membawa kabur sepeda motor milik korban menuju Panimbang, Kabupaten Pandeglang, Banten. Kendaraan tersebut kemudian dijual.

Dalam rekaman pemeriksaan yang diterima wartawan, Saepul mengaku pertengkaran bermula ketika dirinya mengaku ditampar oleh korban. Ia mengklaim spontan mengambil pisau setelah emosi memuncak.

“Saya berontak, terus dia kayak nampar saya. Terus saya tak dorong kan, saya mau teriak terus saya didorong dari tangga. Udah terlanjur didorong ke bawah, saya ambil pisau lah, saya tusuk di bagian sininya (pinggang),” ujar Saepul.

Pelaku juga mengaku terus menyerang korban karena emosi ketika korban masih berusaha melawan.

“Terus dia berontak lagi, nendang saya. Saya makin emosi bang. Terus saya pegang aja kepalanya, tangan dia kan udah nggak bisa (melawan) karena megang perut, terus saya pegang aja kepalanya, terus saya gorok,” ucapnya.

Saat ditanya alasan memutilasi jasad korban, Saepul mengaku kesulitan memindahkan tubuh korban dalam kondisi utuh. Ia juga mengaku berusaha menghilangkan jejak kejahatannya.

“Karena susah bawanya juga bang, di situ kan ramai orang dan perumahan juga,” kata Saepul.

Hingga kini penyidik masih terus mendalami motif di balik pembunuhan tersebut serta melengkapi seluruh alat bukti untuk proses hukum lebih lanjut terhadap tersangka.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *