Scroll untuk baca artikel
Example floating
Nasional

Sade Bangkit Usai Dilalap Api

62
×

Sade Bangkit Usai Dilalap Api

Sebarkan artikel ini

Sade Bangkit Usai Dilalap Api

Sade Bangkit Usai Dilalap Api

Megasora.com – Jakarta, Warga Kampung Adat Sade, Desa Rambitan, Kecamatan Pujut, Kabupaten Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat (NTB), mulai membangun kembali rumah adat Sasak yang sebelumnya terbakar. Pembangunan ditandai dengan pelaksanaan tradisi Nyemulak atau penanaman tiang pertama. Tradisi tersebut juga menandai dimulainya rekonstruksi Masjid Sade yang ikut terdampak kebakaran. Prosesi Nyemulak berlangsung di kawasan Kampung Adat Sade pada Kamis (3/9).

Bupati Lombok Tengah Lalu Pathul Bahri hadir dalam prosesi tersebut dan menyampaikan apresiasinya terhadap dukungan berbagai pihak. Menurutnya, momentum bulan Maulid Nabi Muhammad SAW menjadi waktu yang baik bagi masyarakat untuk memulai kembali pembangunan kawasan adat tersebut. Ia berharap proses rekonstruksi dapat memulihkan kehidupan warga dan mengembalikan aktivitas masyarakat seperti sebelum musibah kebakaran.

“Bulan Maulid Nabi Muhammad ini merupakan yang terbaik, sehingga pembangunan rumah di Kampung Adat Sade ini dimulai hari ini,” kata Lalu Pathul Bahri saat menghadiri acara Nyemulak di Kampung Adat Sade, Kamis (3/9).

Ia juga memberikan penghargaan kepada para donatur yang telah memberikan bantuan untuk mendukung pembangunan kembali Kampung Adat Sade. Bantuan tersebut, menurutnya, menjadi bagian penting dalam membantu masyarakat bangkit setelah kehilangan tempat tinggal dan fasilitas yang selama ini menopang aktivitas mereka.

Pathul berharap masyarakat ikut menjaga dan mendukung seluruh rangkaian pembangunan agar proses rekonstruksi berjalan dengan baik. Ia menilai pembangunan kembali Kampung Adat Sade bukan hanya berkaitan dengan pemulihan bangunan, tetapi juga menyangkut keberlanjutan kehidupan masyarakat serta pelestarian budaya Sasak bagi generasi berikutnya.

“Kami berharap kepada masyarakat untuk terus mendukung rekonstruksi ini untuk kesejahteraan generasi penerus bangsa,” ujarnya.

Bupati juga menegaskan pentingnya pengelolaan proses pembangunan secara terbuka. Menurut dia, seluruh tahapan rekonstruksi harus mengikuti ketentuan yang berlaku agar bantuan dan pembangunan benar-benar memberikan manfaat bagi masyarakat Kampung Adat Sade.

“Pelaksanaan rekonstruksi ini tetap dilaksanakan secara transparan dan sesuai ketentuan untuk kebaikan masyarakat,” kata Pathul.

Sementara itu, Gubernur NTB Lalu M Iqbal menyebut tradisi Nyemulak sebagai bagian dari perjalanan panjang untuk menghidupkan kembali Kampung Adat Sade setelah kebakaran. Pemasangan tiang pertama menjadi simbol dimulainya tahapan pembangunan kembali kawasan yang selama ini menjadi salah satu tujuan wisata budaya di Lombok Tengah.

Menurut Iqbal, masyarakat dan seluruh pihak yang terlibat perlu menjalani proses tersebut dengan kesabaran. Ia mengingatkan agar rekonstruksi tidak berlangsung secara tergesa-gesa karena pembangunan harus tetap memperhatikan nilai budaya dan karakter asli Kampung Adat Sade.

“Dalam proses pembangunan ini harus tetap sabar,” ujar Iqbal.

Gubernur juga meminta pemerintah daerah dan pihak terkait membentuk satuan tugas khusus untuk mengawal proses rekonstruksi. Selain itu, ia mendorong penggunaan rekening bersama dalam mengelola bantuan yang berasal dari masyarakat maupun para donatur.

Langkah tersebut dinilai penting mengingat dukungan terhadap pembangunan kembali Kampung Adat Sade datang dari berbagai pihak. Dengan mekanisme pengelolaan yang terbuka, seluruh bantuan yang diterima dapat tercatat dan digunakan sesuai kebutuhan pembangunan.

“Bantuan yang masuk dikumpulkan,” kata Iqbal.

Selain rumah adat, pemerintah juga mendorong percepatan pembangunan museum semi permanen di kawasan tersebut. Keberadaan fasilitas sementara itu diharapkan dapat membantu masyarakat kembali menjalankan aktivitas sekaligus memberikan ruang bagi wisatawan untuk tetap mengenal budaya Sasak selama proses rekonstruksi berlangsung.

Iqbal mengatakan kawasan Kampung Adat Sade untuk sementara mengalami penutupan selama proses pembangunan. Karena itu, pembangunan museum semi permanen menjadi salah satu langkah yang perlu segera dilakukan agar kegiatan masyarakat dan edukasi wisata budaya tetap dapat berjalan.

“Wisatawan yang datang bisa melihat bentuk Sade ini, karena proses rekonstruksi dimulai kawasan ini ditutup,” ujarnya.

Ia menekankan bahwa rekonstruksi Kampung Adat Sade harus mengacu pada nilai dan bentuk awal kawasan tersebut. Menurutnya, wisatawan tidak sekadar datang untuk melihat bangunan, tetapi juga ingin memahami cerita, tradisi, serta kehidupan masyarakat Sasak yang melekat pada setiap bagian kampung adat.

Karena itu, pembangunan kembali tidak boleh hanya mengejar kecepatan penyelesaian fisik. Pemerintah perlu memastikan karakter budaya yang menjadi identitas Kampung Adat Sade tetap terjaga. Nilai-nilai tradisi dan ritual masyarakat Sasak juga harus menjadi pertimbangan dalam setiap tahapan pembangunan.

“Proses pembangunan ini tidak boleh terburu-buru. Ini proyek pertama pelestarian budaya di NTB,” kata Iqbal.

Koordinator Rekonstruksi Rumah Adat Sade Lalu M Faozal menjelaskan bahwa pelaksanaan Nyemulak telah melalui pembahasan dan kesepakatan bersama warga Dusun Sade. Masyarakat menentukan waktu pelaksanaan berdasarkan hasil musyawarah yang mempertimbangkan nilai dan tradisi yang berlaku di lingkungan kampung adat.

“Hari ini merupakan hari baik yang disepakati untuk pemasangan tiang pancang pembangunan Masjid dan Rumah Adat Sade,” ujar Faozal.

Faozal menyebut kebakaran sebelumnya memberikan dampak cukup besar terhadap kawasan Kampung Adat Sade. Sebanyak 75 rumah adat mengalami dampak, ditambah delapan berugak atau gazebo dan enam sekenam yang menjadi bagian dari kawasan tradisional masyarakat Sasak.

Selain bangunan tersebut, kebakaran juga berdampak pada satu masjid, dua toilet, serta 69 artshop yang selama ini menjadi bagian dari aktivitas ekonomi masyarakat di kawasan wisata Kampung Adat Sade.

Menurut Faozal, seluruh proses pembangunan secara resmi mulai berjalan sejak pelaksanaan Nyemulak. Namun, pemerintah dan masyarakat tidak akan membangun seluruh bangunan secara serentak. Rekonstruksi akan berlangsung secara bertahap berdasarkan perencanaan yang telah disusun bersama.

“Seluruh proses pembangunan dimulai hari ini, namun tidak bisa diselesaikan dengan bersamaan, sehingga dibangun sesuai dengan perencanaan rekonstruksi yang lebih aman,” kata Faozal.

Rekonstruksi tersebut diharapkan tidak hanya mengembalikan bangunan yang rusak atau terbakar, tetapi juga memperkuat upaya perlindungan terhadap warisan budaya Sasak. Kampung Adat Sade memiliki nilai penting karena menjadi ruang hidup masyarakat sekaligus destinasi wisata budaya yang memperkenalkan tradisi Sasak kepada pengunjung.

Dimulainya kembali pembangunan melalui tradisi Nyemulak menjadi simbol kebangkitan warga Sade setelah kebakaran. Pemerintah daerah, masyarakat, serta para donatur kini memiliki tanggung jawab bersama untuk memastikan proses tersebut berjalan transparan, aman, dan tetap mempertahankan identitas asli Kampung Adat Sade.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *