Megasora.com – Jakarta, Kebiasaan mengonsumsi minuman yang mengandung gula tambahan secara rutin perlu mendapat perhatian. Sebuah penelitian terbaru menemukan adanya hubungan antara konsumsi minuman berpemanis tambahan dan peningkatan risiko kanker lambung.
Studi tersebut menunjukkan bahwa orang yang mengonsumsi sedikitnya satu minuman dengan pemanis tambahan setiap hari memiliki kemungkinan mengalami kanker lambung lebih tinggi dibandingkan mereka yang hampir tidak pernah mengonsumsi minuman jenis tersebut.
Hasil penelitian yang dipublikasikan dalam jurnal Gastro Hep Advances itu menemukan bahwa risiko kanker lambung pada kelompok yang rutin mengonsumsi minuman berpemanis mencapai 2,45 kali lebih tinggi.
Peneliti juga melihat adanya perbedaan berdasarkan jenis kelamin. Pada perempuan, peningkatan risiko tercatat sekitar tiga kali lipat, sedangkan pada laki-laki risikonya mencapai sekitar dua kali lipat.
Temuan tersebut menjadi perhatian karena kanker lambung memiliki sejumlah faktor risiko yang sudah dikenal. Beberapa di antaranya meliputi infeksi bakteri Helicobacter pylori atau H. pylori, kebiasaan merokok, konsumsi alkohol berlebihan, usia lanjut, serta faktor jenis kelamin laki-laki.
Tidak Berkaitan dengan Infeksi H. pylori
Dalam penelitian tersebut, tim peneliti turut menguji apakah infeksi H. pylori menjadi faktor yang menjelaskan hubungan antara konsumsi minuman berpemanis dan kanker lambung.
Hasil analisis menunjukkan bahwa kaitan antara kedua hal tersebut tetap terlihat setelah peneliti mempertimbangkan infeksi H. pylori. Dengan demikian, hubungan yang ditemukan dalam penelitian tidak tampak semata-mata berasal dari keberadaan bakteri tersebut.
Peneliti juga membandingkan konsumsi minuman dengan pemanis tambahan dan minuman yang menggunakan pemanis buatan. Hasilnya menunjukkan bahwa minuman dengan pemanis buatan, termasuk minuman berkarbonasi rendah kalori atau minuman diet, tidak menunjukkan hubungan yang sama dengan peningkatan risiko kanker lambung.
Selain jenis minuman, peneliti memberikan perhatian khusus terhadap fruktosa. Zat pemanis tersebut menjadi salah satu komponen utama yang terdapat dalam berbagai minuman manis.
Analisis penelitian menunjukkan bahwa konsumsi fruktosa dalam jumlah lebih tinggi memiliki hubungan positif dengan risiko kanker lambung pada keseluruhan kelompok peserta. Hubungan tersebut juga terlihat secara khusus pada peserta perempuan.
Melibatkan Lebih dari 112 Ribu Peserta
Penelitian ini memanfaatkan data dari dua proyek penelitian kesehatan jangka panjang di Amerika Serikat, yakni Nurses’ Health Study dan Health Professionals Follow-up Study.
Kedua penelitian tersebut telah mengikuti kondisi kesehatan dan pola makan puluhan ribu peserta selama bertahun-tahun. Data jangka panjang itu memungkinkan peneliti melihat perubahan kebiasaan konsumsi makanan dan minuman serta kaitannya dengan berbagai kondisi kesehatan.
Dalam penelitian terbaru ini, tim melibatkan 112.284 peserta. Selama periode pengamatan, peneliti mencatat 278 kasus kanker lambung.
Para peserta secara berkala mengisi kuesioner mengenai pola konsumsi makanan dan minuman. Kuesioner tersebut diberikan setiap empat tahun dan mencakup berbagai jenis minuman yang mereka konsumsi.
Selain pola makan, peserta juga memberikan informasi mengenai gaya hidup, kondisi kesehatan, serta riwayat medis. Pembaruan mengenai kesehatan peserta dilakukan setiap dua tahun sehingga peneliti dapat memantau perubahan kondisi selama masa penelitian.
Untuk menganalisis konsumsi minuman, peneliti membaginya ke dalam beberapa kategori. Minuman dengan pemanis tambahan mencakup minuman bersoda, punch, limun, serta minuman olahraga.
Sementara itu, kelompok minuman berpemanis buatan mencakup minuman berkarbonasi rendah kalori dan sejumlah produk sejenis. Peneliti kemudian mengelompokkan tingkat konsumsi mulai dari kurang dari satu porsi per bulan hingga lebih dari satu porsi setiap hari.
Dalam penelitian tersebut, satu porsi minuman ditetapkan sebesar 8 ons atau sekitar 237 mililiter.
Peneliti Ingatkan Keterbatasan Studi
Ketika peserta melaporkan diagnosis kanker lambung, peneliti berupaya memastikan informasi tersebut melalui catatan medis maupun registri kanker apabila tersedia.
Tim peneliti juga memperhitungkan sejumlah faktor lain yang dapat memengaruhi risiko kanker lambung. Penyesuaian tersebut mencakup konsumsi daging merah dan daging olahan serta faktor risiko lain yang telah diketahui dalam penelitian sebelumnya.
Langkah tersebut bertujuan membantu peneliti memperoleh gambaran yang lebih jelas mengenai hubungan antara konsumsi minuman berpemanis dan kanker lambung.
Meski menghasilkan temuan yang cukup signifikan, penelitian ini belum dapat membuktikan bahwa minuman manis secara langsung menyebabkan kanker lambung. Penelitian tersebut menggunakan metode observasional sehingga hanya dapat menunjukkan adanya hubungan atau asosiasi.
Karena itu, para peneliti menilai masih diperlukan penelitian lanjutan untuk memahami mekanisme yang mungkin menghubungkan konsumsi minuman berpemanis dengan kanker lambung.
Karakteristik peserta juga menjadi salah satu keterbatasan penelitian. Sebagian besar peserta merupakan tenaga kesehatan berkulit putih yang pertama kali mengikuti penelitian ketika berusia antara 30 hingga 75 tahun.
Kondisi tersebut membuat hasil penelitian belum tentu dapat menggambarkan risiko pada seluruh kelompok masyarakat. Peneliti masih perlu menguji temuan serupa pada kelompok dengan latar belakang ras dan etnis yang lebih beragam serta kelompok usia yang lebih muda.
Jumlah kasus kanker lambung yang ditemukan dalam penelitian juga relatif kecil jika dibandingkan dengan keseluruhan jumlah peserta. Dari lebih dari 112 ribu orang yang mengikuti penelitian, hanya tercatat 278 kasus kanker lambung.
Kondisi tersebut dapat memengaruhi tingkat ketepatan estimasi risiko. Oleh sebab itu, hasil penelitian perlu dipandang sebagai temuan awal yang membutuhkan konfirmasi melalui penelitian dengan populasi dan desain yang lebih luas.
Meski demikian, penelitian ini memberikan tambahan informasi mengenai kemungkinan hubungan antara pola konsumsi minuman berpemanis dan kesehatan lambung. Temuan tersebut juga memperkuat pentingnya memperhatikan jumlah gula tambahan dalam pola makan sehari-hari.
Masyarakat tetap perlu menerapkan pola konsumsi yang seimbang dan tidak menjadikan minuman manis sebagai bagian dari kebiasaan harian secara berlebihan. Namun, temuan penelitian ini tidak berarti bahwa setiap orang yang mengonsumsi minuman manis akan mengalami kanker lambung.
Yang perlu digarisbawahi, penelitian tersebut menemukan hubungan antara konsumsi minuman berpemanis dan risiko kanker lambung, bukan membuktikan hubungan sebab-akibat secara langsung. Penelitian lebih lanjut masih diperlukan untuk memastikan mekanisme dan kekuatan hubungan tersebut.













