Scroll untuk baca artikel
Example floating
Internasional

Iran Hantam Pusat Data Amazon di Bahrain

136
×

Iran Hantam Pusat Data Amazon di Bahrain

Sebarkan artikel ini

Iran Hantam Pusat Data Amazon di Bahrain

ilustrasi Iran Hantam Pusat Data Amazon di Bahrain

Megasora.com – Jakarta, Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) mengklaim telah melancarkan serangan rudal ke pusat data milik perusahaan teknologi asal Amerika Serikat, Amazon, yang berada di Bahrain. Langkah tersebut disebut sebagai respons atas operasi militer Amerika Serikat yang sebelumnya menghantam lokasi pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN) Darkhovin di Iran.

Dalam pernyataan resminya yang dirilis pada Selasa, IRGC menegaskan bahwa serangan tersebut merupakan aksi balasan terhadap serangan Washington.

“Sebagai respons atas serangan Amerika Serikat terhadap proyek pembangunan fasilitas nuklir dan kawasan sipil di Darkhovin, pasukan kami menargetkan sejumlah pusat data utama milik Amazon di Bahrain menggunakan rudal jelajah. Operasi itu mengakibatkan kerusakan yang cukup besar pada sasaran,” demikian pernyataan IRGC.

Sebelumnya, pada Minggu (19/7), sejumlah media melaporkan bahwa militer Amerika Serikat menyerang area pembangunan PLTN Darkhovin yang berada di wilayah Iran. Hingga kini, informasi mengenai dampak serangan tersebut masih terus menjadi perhatian berbagai pihak.

Badan Tenaga Atom Internasional (IAEA) menyampaikan bahwa mereka sedang melakukan verifikasi terhadap laporan mengenai serangan di lokasi pembangunan reaktor nuklir tersebut. Lembaga itu juga menyebut belum menemukan indikasi kuat yang menunjukkan munculnya ancaman radiologis akibat insiden tersebut.

“IAEA masih mengumpulkan informasi dan menilai situasi di lapangan. Berdasarkan data awal yang kami miliki, belum terdapat bukti yang mengarah pada risiko radiologis,” demikian pernyataan lembaga tersebut.

Di sisi lain, hubungan antara Teheran dan Washington kembali memanas setelah kesepakatan yang sempat dicapai tidak bertahan lama. Pada malam 18 Juni 2026, kedua negara menandatangani sebuah memorandum yang berisi komitmen untuk menghentikan konflik yang telah berlangsung sejak 28 Februari 2026.

Meski demikian, ketegangan kembali meningkat ketika militer Amerika Serikat melancarkan sejumlah serangan ke wilayah Iran mulai 8 Juli 2026. Iran kemudian membalas dengan menggempur beberapa pangkalan militer Amerika Serikat yang berada di sejumlah negara di kawasan Timur Tengah.

Pemerintah Iran menilai tindakan Washington telah melanggar kesepakatan gencatan senjata yang sebelumnya disepakati. Sementara itu, pada 9 Juli 2026, Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyatakan bahwa perjanjian gencatan senjata tersebut sudah tidak lagi berlaku.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *