Scroll untuk baca artikel
Example floating
Berita

Kemarau Tiba, Waspada ISPA

54
×

Kemarau Tiba, Waspada ISPA

Sebarkan artikel ini

Kemarau Tiba, Waspada ISPA

Kemarau Tiba, Waspada ISPA

Megasora.com – Jakarta, Cuaca panas yang terjadi selama musim kemarau kerap disertai peningkatan konsentrasi debu dan polutan di udara. Kondisi tersebut dapat memengaruhi kesehatan sistem pernapasan, terutama pada masyarakat yang memiliki daya tahan tubuh rendah. Paparan udara yang tercemar secara terus-menerus berpotensi menimbulkan iritasi pada saluran pernapasan. Dalam kondisi tertentu, iritasi tersebut dapat meningkatkan risiko seseorang mengalami infeksi saluran pernapasan akut atau ISPA.

Dokter spesialis paru dan pernapasan Dr. dr. Feni Fitriani Taufik, Sp.P(K), M.Pd.Ked, menjelaskan bahwa partikel debu dan berbagai zat pencemar yang masuk melalui saluran pernapasan dapat mengganggu kondisi jaringan pernapasan. Paparan tersebut dapat memicu peradangan sekaligus menurunkan kemampuan saluran napas dalam mempertahankan diri dari infeksi. “Iritasi tersebut dari debu, akan menurunkan daya tahan saluran nafas, menyebabkan inflamasi, sehingga mudah terkena ISPA atau infeksi saluran pernapasan atas,” kata Feni kepada ANTARA di Jakarta, Senin.

Dosen Departemen Pulmonologi dan Kedokteran Respirasi Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia tersebut mengatakan kelompok dengan imunitas yang lebih rendah perlu memberikan perhatian lebih terhadap kondisi udara selama musim kemarau. Anak-anak, lanjut usia, serta masyarakat yang sudah memiliki gangguan pada sistem pernapasan maupun penyakit tertentu dapat lebih mudah mengalami dampak buruk dari kualitas udara yang menurun.

Menurut Feni, menjaga kondisi tubuh tetap prima menjadi salah satu langkah penting untuk mengurangi risiko gangguan kesehatan selama periode dengan tingkat polusi yang tinggi. Masyarakat perlu memperhatikan kecukupan waktu tidur, menerapkan kebiasaan hidup bersih dan sehat, serta memenuhi kebutuhan nutrisi sehari-hari. “Nah trik-triknya bagaimana kalau untuk meningkatkan daya tahan tubuh, tentu butuh vitamin, istirahat yang cukup, pola hidup bersih sehat intinya,” ujarnya.

Ia juga menganjurkan masyarakat untuk memperhatikan komposisi makanan sehari-hari dengan mengutamakan pola konsumsi bergizi seimbang. Buah dan sayuran dapat menjadi bagian penting dari menu harian karena menyediakan berbagai vitamin dan zat gizi yang diperlukan tubuh. Pada kondisi tertentu, masyarakat juga dapat mempertimbangkan konsumsi suplemen vitamin maupun antioksidan sesuai kebutuhan.

Selain menjaga kondisi tubuh, Feni mengingatkan masyarakat agar tidak melakukan aktivitas yang justru memperburuk kualitas udara di lingkungan sekitar. Salah satunya dengan menghindari kebiasaan membakar sampah secara terbuka. Asap rokok juga dapat menambah paparan zat berbahaya yang masuk ke saluran pernapasan sehingga masyarakat perlu menghindari aktivitas merokok maupun paparan asap rokok.

“Dari kita sendiri supaya tidak terjadi menambah polusi udara ya tidak ikut-ikutan membakar sampah, atau tidak merokok,” kata Feni yang juga berpraktik di Rumah Sakit Umum Pusat Persahabatan, Jakarta Timur.

Ketika kualitas udara memburuk, masyarakat juga perlu mempertimbangkan kembali aktivitas yang mengharuskan mereka berada di luar ruangan. Feni menyarankan agar kegiatan di luar rumah dilakukan berdasarkan tingkat kebutuhan. Aktivitas yang tidak mendesak dapat ditunda atau dilakukan pada waktu ketika kondisi lingkungan lebih mendukung.

Namun, bagi masyarakat yang tetap harus beraktivitas di luar rumah, perlindungan terhadap tubuh perlu mendapat perhatian. Penggunaan kacamata dapat membantu melindungi mata dari paparan debu, sedangkan pelindung wajah dapat membantu mengurangi masuknya partikel pencemar ke saluran pernapasan. Langkah tersebut penting terutama ketika kondisi udara menunjukkan tingkat pencemaran yang tinggi.

“Kalau memang harus keluar rumah, ya gunakan alat-alat proteksi yang tadi dan sesegera mungkin kembali ke rumah untuk menghindari pajanan debu,” ujar Feni.

Feni turut mengingatkan masyarakat yang memiliki penyakit pernapasan kronis untuk tidak mengabaikan pengobatan yang telah mereka jalani. Penderita asma, misalnya, perlu tetap mengikuti anjuran penggunaan obat secara rutin, khususnya ketika kualitas udara mengalami penurunan. Paparan polusi dapat memperburuk kondisi saluran pernapasan pada kelompok tersebut sehingga pencegahan dan pengendalian penyakit perlu dilakukan secara konsisten.

Kondisi tersebut semakin penting mengingat jumlah kunjungan pasien dengan keluhan ISPA masih cukup tinggi. Kepala Biro Komunikasi dan Informasi Publik Kementerian Kesehatan Aji Muhawarman sebelumnya menyampaikan bahwa rumah sakit mencatat 676.404 kunjungan pasien ISPA sepanjang Januari hingga Juli 2026.

ISPA merupakan istilah yang mencakup berbagai infeksi pada sistem pernapasan, baik bagian atas maupun bawah. Gangguan tersebut dapat menyerang sejumlah organ, mulai dari hidung, tenggorokan, sinus, bronkus hingga paru-paru. Informasi Kementerian Kesehatan menyebutkan bahwa ISPA dapat muncul akibat infeksi yang berasal dari virus, bakteri, maupun jamur.

Selain infeksi, paparan udara yang tercemar juga dapat memberikan tekanan tambahan terhadap sistem pernapasan. Debu dan polutan yang terhirup dapat memicu iritasi serta memperburuk kondisi saluran napas, terutama pada orang yang memiliki sensitivitas atau penyakit pernapasan sebelumnya. Karena itu, masyarakat perlu memperhatikan kualitas udara dan menerapkan langkah perlindungan ketika kondisi lingkungan memburuk.

Sejumlah gejala dapat muncul ketika seseorang mengalami ISPA, antara lain batuk, pilek, hidung tersumbat, sakit tenggorokan, demam, sesak napas, serta suara serak atau kehilangan suara. Penderita juga dapat mengalami sakit kepala hingga nyeri pada otot dan persendian. Tingkat keparahan gejala dapat berbeda pada setiap orang sehingga masyarakat perlu memperhatikan perubahan kondisi tubuh.

Feni menekankan bahwa kemunculan gejala tersebut perlu mendapat perhatian lebih apabila terjadi pada kelompok yang memiliki tingkat kerentanan tinggi. Balita, lansia, penderita penyakit paru-paru, serta individu dengan penyakit jantung termasuk kelompok yang perlu lebih waspada terhadap gangguan pernapasan.

Jika gejala ISPA muncul dan kondisi kesehatan tidak kunjung membaik, kelompok rentan tersebut sebaiknya segera mendapatkan pemeriksaan tenaga medis. Pemeriksaan lebih awal dapat membantu tenaga kesehatan menentukan penyebab keluhan dan memberikan penanganan yang sesuai. Masyarakat juga perlu menghindari paparan debu dan polusi selama mengalami gangguan pernapasan agar kondisi tidak semakin berat.

Memasuki periode kemarau, upaya menjaga kesehatan pernapasan tidak hanya bergantung pada pengobatan ketika penyakit muncul. Masyarakat juga dapat melakukan pencegahan dengan menjaga kebugaran tubuh, memenuhi kebutuhan gizi, beristirahat cukup, mengurangi aktivitas di luar ruangan ketika polusi meningkat, serta menggunakan perlindungan saat harus berada di lingkungan berdebu.

Dengan menerapkan langkah pencegahan tersebut, masyarakat dapat mengurangi paparan polutan sekaligus menjaga kondisi saluran pernapasan selama musim kemarau. Perhatian khusus perlu diberikan kepada kelompok rentan agar gejala gangguan pernapasan dapat segera dikenali dan ditangani sebelum berkembang menjadi kondisi yang lebih serius.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *