Scroll untuk baca artikel
Example floating
Tak Berkategori

Kepergian Yurizal Bikin Banyak Orang Minta Maaf

51
×

Kepergian Yurizal Bikin Banyak Orang Minta Maaf

Sebarkan artikel ini

Kepergian Yurizal Bikin Banyak Orang Minta Maaf

Kepergian Yurizal Bikin Banyak Orang Minta Maaf

Megasora.com – Jakarta, Media sosial dalam beberapa hari terakhir dipenuhi perbincangan mengenai meninggalnya Yurizal, seorang peserta BPJS Kesehatan yang sempat menjalani perawatan di RSUP Dr. Sardjito Yogyakarta. Perhatian publik tertuju pada unggahan almarhum sebelum wafat yang berisi keluhan karena harus menunggu lama untuk mendapatkan ruang perawatan di rumah sakit.

Sebelum kabar duka itu muncul, Yurizal sempat membagikan pengalamannya melalui media sosial. Ia mengaku harus menunggu hingga delapan jam tanpa memperoleh kamar rawat inap meski sudah berada di rumah sakit sebagai pasien BPJS. Unggahan tersebut kemudian viral dan memancing beragam tanggapan dari warganet.

Alih-alih memperoleh dukungan, keluhan Yurizal justru dibalas dengan komentar bernada sinis. Sejumlah akun yang belakangan diduga merupakan tenaga kesehatan ikut memberikan respons yang menuai kecaman publik.

Dalam unggahannya, Yurizal menulis, “Delapan jam blm dpt ruangan. Gamau spill RS nya, soalnya gue pake bpjs.”

Salah satu komentar datang dari akun @erudarahaadini yang menulis, “PP nya kayak orang Have tapi aslinya Haven’t kah? haven’t some brain cells.” Komentar tersebut kemudian ramai dikritik karena dianggap tidak menunjukkan empati kepada pasien.

Komentar lain berasal dari akun @bennychrstn yang menuliskan, “Kalo full, mau dipindahkan kemana? mau di lantai? Gk ada hubungannya sama BPJS atau nggak BPJS yang make banyak, otomatis yg dirawat juga banyak, ga cuma u sendiri. Kalo mau pindah cepat, noh ruang jenazah selalu kosong. Ngeselin dah, nakes/RS bahkan pemerintah melalui BPJS berusaha bantuin, masyarakatnya malah gini.”

Setelah unggahan tersebut viral, sejumlah warganet menelusuri identitas pemilik akun @bennychrstn. Mereka menduga akun itu milik seorang alumni Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia.

Komentar lain yang ikut menjadi sorotan berasal dari akun @1amdika. Pemilik akun tersebut menyebut pasien akan memperoleh penanganan lebih cepat apabila datang ke instalasi gawat darurat (IGD) dalam kondisi serangan jantung. Sementara itu, akun @nandafadyla_ juga menuai kritik usai menuliskan kalimat singkat, “Bacot nih pasien.”

Perbincangan di media sosial berubah menjadi duka setelah keluarga mengumumkan Yurizal meninggal dunia. Kabar tersebut disampaikan oleh sepupunya, Hilda Aprianti, melalui unggahan pada Sabtu (1/8/2026). Dalam unggahan itu disebutkan Yurizal mengembuskan napas terakhir pada 31 Juli 2026.

“Selamat jalan ya, Wi. Semoga husnul khotimah. Semoga diberikan tempat terbaik di sisi Allah,” tulis Hilda.

Pihak keluarga turut menyampaikan kekecewaan atas munculnya komentar-komentar yang dinilai tidak memiliki empati. Mereka menyayangkan adanya dugaan tenaga kesehatan yang memberikan respons negatif terhadap keluhan Yurizal hanya karena statusnya sebagai pasien BPJS.

Setelah kabar meninggalnya Yurizal menjadi perhatian luas, sejumlah pemilik akun yang sebelumnya melontarkan komentar kontroversial mulai menyampaikan permintaan maaf secara terbuka.

Salah satunya datang dari Widhiyarini Pangestika. Melalui akun Threads pribadinya, ia menyampaikan belasungkawa kepada keluarga almarhum sekaligus mengakui kesalahan atas komentar yang pernah ditulisnya.

“Assalamualaikum wr. wb, saya Widhiyarini Pangestika. Dengan kerendahan hati saya, menyampaikan turut berduka cita yang sedalam-dalamnya atas meninggalnya Almarhum Yurizal. Semoga Almarhum mendapat tempat terbaik di sisinya dan keluarga ditinggalkan diberikan ketabahan serta keikhlasan,” tulisnya dalam unggahan yang dikutip Rabu (5/8/2026).

Dalam pernyataannya, Widhiyarini mengakui komentarnya tidak mencerminkan sikap seorang tenaga kesehatan. Ia meminta maaf kepada keluarga almarhum karena ucapannya dinilai menambah beban kesedihan yang tengah mereka rasakan.

“Saya mengakui komentar saya tidak pantas dan tidak menunjukkan etika, empati maupun profesionalisme sebagai seorang tenaga kesehatan,” ujarnya.

Ia juga menyampaikan permohonan maaf kepada instansi tempatnya bekerja karena tindakannya dinilai berdampak terhadap citra lembaga dan menurunkan kepercayaan masyarakat. Widhiyarini menyatakan siap menerima konsekuensi atas perbuatannya.

“Saya menyesal atas perbuatan yang telah saya lakukan, saya berjanji tidak mengulangi perbuatan tersebut dan akan menjaga sikap, tutur kata, serta perilaku saya. Saya berharap keluarga berkenan memberikan maaf atas kekhilafan yang telah saya lakukan,” katanya.

Permintaan maaf serupa disampaikan Benny Christian Sihombing melalui sebuah video yang diunggah di media sosial. Dalam rekaman tersebut, ia menyampaikan belasungkawa kepada keluarga Yurizal sekaligus mengakui seluruh tulisannya merupakan tanggung jawab pribadi.

“Saya Benny Christian Sihombing, saya ingin menyampaikan permohonan maaf atas ketikan saya di media sosial di Threads. Saya juga turut berduka cita kepada pemilik utas Yurizal. Saya berdoa semoga segenap keluarga diberikan penghiburan. Saya bertanggung jawab penuh atas segala tulisan yang saya buat, dan jikapun nanti ada, saya akan mengikutinya tanpa pembelaan ataupun menyewa pengacara,” ujarnya.

Benny juga menegaskan siap menerima segala konsekuensi yang timbul akibat unggahannya. Ia turut meminta maaf atas nama profesinya serta berkomitmen untuk lebih berhati-hati dan bijaksana saat menggunakan media sosial.

Sementara itu, pemilik akun @erudarahaadini, yang diketahui bernama Elda Putri Rahardini, juga menyampaikan permohonan maaf secara terbuka. Ia mengakui komentar yang dibuatnya tidak mencerminkan etika maupun rasa empati terhadap pasien.

“Sebagai seorang dokter dan tenaga kesehatan, seharusnya saya mengedepankan nilai-nilai kemanusiaan,” tulis Elda dalam unggahannya. Ia menutup pernyataannya dengan menegaskan kesediaan menerima seluruh konsekuensi atas tindakan yang telah dilakukannya.

Kasus ini menjadi sorotan luas karena memperlihatkan pentingnya menjaga etika dan empati, khususnya bagi tenaga kesehatan ketika berinteraksi di ruang digital. Di sisi lain, peristiwa tersebut juga memunculkan kembali perhatian publik terhadap pelayanan kesehatan, terutama terkait akses pasien BPJS dalam memperoleh ruang perawatan di rumah sakit.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *