Scroll untuk baca artikel
Example floating
Kesehatan

Ribuan Warga RI Baru Ketahuan Idap Diabetes-Hipertensi

56
×

Ribuan Warga RI Baru Ketahuan Idap Diabetes-Hipertensi

Sebarkan artikel ini

Ribuan Warga RI Baru Ketahuan Idap Diabetes-Hipertensi

Ribuan Warga RI Baru Ketahuan Idap Diabetes-Hipertensi

Megasora.com – Jakarta, Kementerian Kesehatan (Kemenkes) mengajak masyarakat memanfaatkan Program Cek Kesehatan Gratis (CKG) secara rutin setiap tahun. Imbauan tersebut muncul setelah hasil evaluasi menunjukkan kondisi kesehatan seseorang dapat berubah dalam waktu singkat, meskipun pada pemeriksaan sebelumnya tidak ditemukan penyakit.

Direktur Jenderal Kesehatan Primer dan Komunitas Kementerian Kesehatan, dr. Maria Endang Sumiwi, MPH, menjelaskan bahwa pemeriksaan kesehatan berkala menjadi langkah penting untuk menemukan penyakit sejak dini sehingga penanganan dapat dilakukan lebih cepat.

“Pesannya adalah selalu cek kesehatan gratis setiap tahun. Karena bisa jadi tahun lalu kita tidak bermasalah, tahun ini kita bermasalah,” ujar Endang dalam paparan capaian Program CKG, Selasa (4/8/2026).

Berdasarkan evaluasi terhadap peserta yang mengikuti CKG selama dua tahun berturut-turut, Kemenkes menemukan adanya peningkatan jumlah kasus hipertensi dan diabetes pada peserta yang sebelumnya dinyatakan sehat.

Data Kemenkes menunjukkan sekitar 30 juta orang yang menjalani CKG pada 2025 tidak mengalami hipertensi. Dari jumlah tersebut, sekitar 9,2 juta orang kembali mengikuti pemeriksaan pada 2026. Hasilnya, sebanyak 1 juta peserta kini diketahui mengalami hipertensi.

Endang menilai temuan tersebut membuktikan bahwa pemeriksaan kesehatan tahunan memiliki peran penting dalam mendeteksi perubahan kondisi tubuh sebelum menimbulkan komplikasi yang lebih berat.

“Jadi tahun lalu 30 juta diperiksa tidak bermasalah. Dari yang sudah kembali diperiksa tahun ini, ternyata satu juta menjadi hipertensi. Ini menunjukkan kenapa cek kesehatan harus dilakukan setiap tahun,” katanya.

Perubahan kondisi juga terlihat pada kelompok peserta dengan status prehipertensi. Dari sekitar 3,9 juta orang yang sebelumnya berada pada tahap awal peningkatan tekanan darah, sebanyak 1,3 juta menjalani pemeriksaan ulang. Hasil evaluasi memperlihatkan sekitar 297 ribu orang telah berkembang menjadi penderita hipertensi.

Menurut Endang, fakta tersebut menjadi pengingat bahwa hasil pemeriksaan yang normal bukan berarti seseorang terbebas dari risiko penyakit di masa mendatang. Oleh sebab itu, masyarakat diharapkan tidak menunda pemeriksaan kesehatan secara berkala.

Evaluasi serupa juga dilakukan terhadap kondisi gula darah peserta. Kemenkes mencatat sebanyak 8,3 juta orang yang sebelumnya tidak mengidap diabetes kembali mengikuti CKG pada tahun ini. Dari jumlah tersebut, sekitar 188 ribu peserta kini terdiagnosis diabetes.

Selain itu, kelompok peserta yang sebelumnya berada dalam kategori prediabetes juga menunjukkan perkembangan kasus. Tercatat sekitar 16 ribu orang mengalami peningkatan kondisi hingga akhirnya terdiagnosis diabetes setelah menjalani pemeriksaan lanjutan.

“Karena itu masyarakat yang sudah diperiksa tahun lalu diharapkan segera kembali lagi mengikuti CKG tahun ini,” ujar Endang.

Di balik meningkatnya jumlah kasus baru, Kemenkes juga mencatat hasil yang menggembirakan. Dari sekitar 340 ribu penyandang diabetes yang kembali mengikuti CKG, sebanyak 235 ribu orang berhasil mengendalikan kadar gula darah hingga kembali berada dalam batas normal.

Perbaikan kondisi kesehatan juga terlihat pada peserta yang sebelumnya mengalami hipertensi. Dari sekitar 6,8 juta penderita hipertensi yang tercatat pada pemeriksaan terdahulu, sebanyak 2,4 juta mengikuti pemeriksaan ulang. Dari jumlah tersebut, sekitar 1,1 juta orang berhasil menurunkan tekanan darah hingga kembali normal.

“Itu tujuan kita. Yang tahun lalu hipertensi, tahun ini jangan masih hipertensi. Kita ingin semakin banyak masyarakat yang tekanan darahnya kembali normal,” kata Endang.

Selain mengevaluasi hasil pemeriksaan kesehatan, Kemenkes juga menilai efektivitas tindak lanjut pengobatan bagi peserta yang terdiagnosis penyakit tidak menular. Pemerintah telah menyediakan obat secara gratis selama 15 hari pertama bagi peserta yang diketahui mengalami hipertensi, diabetes, maupun gangguan kadar lemak darah. Setelah masa tersebut berakhir, pengobatan dilanjutkan melalui layanan BPJS Kesehatan.

Meski demikian, hasil evaluasi di tiga puskesmas menunjukkan masih terdapat kendala dalam pemberian terapi. Tingkat pasien yang langsung memperoleh pengobatan setelah diagnosis baru berkisar antara 43 hingga 62 persen.

“Hasil evaluasi kami masih bervariasi. Ada yang diperiksa saat kegiatan di komunitas, tetapi ketika diminta datang ke puskesmas untuk mengambil obat ternyata tidak datang,” jelas Endang.

Untuk meningkatkan kepatuhan pengobatan, Kemenkes tengah mengkaji penyempurnaan mekanisme pelayanan. Salah satu opsi yang dipertimbangkan ialah menyediakan obat langsung di lokasi pelaksanaan pemeriksaan kesehatan masyarakat sehingga peserta dapat segera memulai terapi tanpa harus kembali ke puskesmas.

Endang menegaskan bahwa Program Cek Kesehatan Gratis tidak hanya bertujuan menemukan penyakit sejak dini, tetapi juga memastikan masyarakat memperoleh penanganan yang cepat dan tepat. Melalui langkah tersebut, pemerintah berharap risiko komplikasi serius seperti stroke, penyakit jantung, gagal ginjal, hingga kematian dini dapat ditekan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *